Sebuah Catatan Kecil yang Menaburkan Kecerahan dalam Wacana Kehidupan

Pahamilah Hidupmu


Kala hati kalah dengan pikiran
Kala hati tidak lagi didengarkan
Kala hati hanya dalam angan
Kala hati tak lagi diperhatikan

Kehidupan menjadi tak nyaman
Kehidupan tidak sesuai dengan tujuan 
Hanya kesenangan semu yang didapatkan
Penyesalanan kan selalu mengintip di pojok-pojok kehidupan

Apakah kesenangan seperti ini yang diharapkan?
Apakah hidup hanya dipahami dengan pikiran saja?
Apakah perasaan hati hanya menjadi pajangan dalam diri manusia?

Pahamilah hidupmu
Tak cukup dengan pikiran
Namun
Juga dengan perasaan hati yang terdalam



***
06:30
Selasa, 18 Des 2012
Kamar Umar BK
Share:

Memahamimu


Pernah ku bertanya-tanya tentangmu pada diriku sendiri
Berusaha memahami dari kabar di sana sini
Yang melintas dalam setiap hari

Dalam egoku
Itu sudah mewakili pada pikiranku

Namun , , ,
Engkau lebih dari yang aku pahami
Tak sedikit pelajaran yang ku dapati
Dari kata-katamu sendiri
Ku yakin ini sangat berarti
Dalam menghadapi teka teki hidup ini

Keterbukaanmu padaku sungguh aku kagumi
Inilah yang ku harapkan
Berbagi cerita untuk saling memahami


***
00:45
Selasa, 18 Des 2012
Kamar Umar BK
Share:

Meneladani 10 Tokoh Inspiratif


Identitas Buku
Judul: Anak Kampung Paling Fenomenal
Penulis: DR. M. Mufti Mubarok
Editor: Mutaqien
Penerbit: Indomedia Group
Cetakan: Desember 2012
Halaman: 256 hal, 15 x 23 cm
ISBN: 978-60294190-6-1

Dewasa ini, tidak banyak tokoh-tokoh penting dan kharismatik seta berpengaruh luas dalam banyak bidang di Indonesia. Berbagai tokoh, baik dari presiden, menteri, politikus, penguasa mempunyai keunikan dan kelebihan tersendiri yang perlu diteladani. Tokoh-tokoh tersebut diposisikan sebagai idola dan sekaligus sebagai sumber inspirasi dalam melakukan tindakan.  Ini yang menyebabkan menjadi seorang tokoh panutan bukan suatu hal yang  mudah. Ini tidak lain karena segala tindakannya akan menjadi contoh bagi yang mengidolakannya.
Tak khayal apabila tidak sedikit para tokoh pemimpin yang gagal dalam menjalankan misinya. Bahkan ketika melakukan tindakan tidak sesuai dengan perannya menjadikan ia tidak disenangi para bawahan. Maka tidak ada salahnya mengetahui rahasia dari tokoh-tokoh yang dengan caranya masing-masing berhasil membawa kemajuan dan perubahan, bagi dirinya khususnya dan bagi bangsa Indonesia pada umumnya.
Sebut saja Chairul Tanjung, dalam majalah Forber pengusaha kelahiran Jakarta merupakan konglomerat yang namanya berada di urutan 937 dari 1000 orang terkaya di dunia dengan total kekayaan senilai USD 2,1 miliar (hal. 1). Hasil yang diperoleh tersebut tidak lepas dari perjuangannya melawan carut marut kehidupan. Ia masuk dan menggeluti dunia bisnis ketika masuk bangku kuliah. Bisnis yang dilakukan tidak langsung menjadi sukses. Mulai usaha jual beli mobil bekas, membangun pabrik sumpit, pabrik sandal hingga membuat toko alat kedokteran gigi telah ia lakoni. Berkat kegigihan dan keberaniannya, Si “Anak Singkong” ini berhasil membuktikan kepada dunia. Dan ia pun berhasil mendirikan sekolah tinggi gratis bagi warga miskin.
Dalam meraih kesuksesan tidaklah selalu berjalan mulus seperti yang diinginkan. Ada sebuah tantangan bahkan cobaan besar, seperti yang dialami Ir. Ciputra. Pada tahun 1997 terjadi krisis ekonomi yang menimpa tiga group yang dipimpinnya yaitu Jaya Group, Metropolitan Group dan Ciputra Group. Selain itu, Bank Ciputra dan Asuransi Jiwa Ciputra yang ia dirikan ditutup oleh pemerintah (hal. 152). Dengan prinsipnya berani mengambil resiko, akhirnya ia berhasil untuk bangkit dari keterpurukan.
Keberhasilan seseorang dalam kesuksesan itu tergantung pada kedisiplinan masing-masing dalam memegang teguh pada prinsip. Harry Tanoe Soedibjo, Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) berbagi kisah sukses. Baginya, dalam menggenggam kesuksesan ia menekankan pada empat prinsip. Pertama, Time Big, untuk menjadi berhasil generasi muda harus berpikir secara meluas dan jauh ke depan. Kedua,  Focus  on quality, maksudnya berpikir fokus dan mengedepankan kualitas. Ketiga, Speed, kecepatan dan percepatan dalam melangkah dan melaksanakan tindakan. Dan keempat adalah Main Momentum, dalam melakukan bisnis Harry tidak lepas dalam melihat momentum yang tepat untuk melangkah (hal.199).
Kisah tokoh-tokoh inspiratif tidak berhenti sampai di situ saja. Dalam buku hasil buah tangan M. Mufti Mubarok seorang Dosen sekaligus pengusaha sukses ini mengungkap secara jelas, kunci kesuksesan dan kepemimpinan 10 tokoh inspiratif putra Bangsa yang mempunyai kharisma, pengaruh, ambisi dan unik. Mereka adalah Chairul Tanjung, Dahlan Iskan, Suya Paloh, Joko Widodo, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Ir. Ciputra, Harry Tanoe Soedibjo dan Bob Sadino. Dari kesepuluh tokoh inspiratif yang dikemas dengan apik ini, banyak hal-hal yang positif yang perlu kita teladani. Baik dalam hal politik, bisnis, pengusaha, maupun ketokohan secara umum dalam masyarakat.


* Resensi Buku ini dimuat di Koran Jateng Pos, Rubrik "Resensi Buku", Edisi Minggu, 9 Desember 2012.

Share:

Habis Gelap Terbitlah Terang


Hingga detik ini , , ,
Kebersamaan pertamaku bersamanya masih terasa
Kebahagiaan yang mendamaikan hati
Menggelorakan semangat dalam jiwa
Serta raga
Waktu pun terus menatap ke depan
Berjalan sembari memikul kabar kehidupan
Hanya ada dua bawaan
Kebahagiaan kesedihan
Terkadang waktu menjatuhkan kebahagiaan
Terkadang waktu menjatuhkan kesedihan
Masih tergambar jelas dalam kelopak mata ini
Detik-detik yang tak diharapkan oleh qalbi
Kebahagiaan pun berubah menyedihkan hati
Inginku, hari itu tak pernah terjadi
Tapi , , ,
Waktu sendiri pun tak kuasa berhenti ataupun melewati
Ya, itulah yang terjadi
Maka terjadi
Ku ingin memendamkan dalam catatan kecilku
Namun,
Waktu setahun tak mampu menghapus memori kala itu
Hingga melukai diriku
Tenggelam dalam lautan kesedihan selalu
Kenapa ku tak dapat memalingkan hatiku?
Kapan ini akan berakhir dalam hidup?
Tak selamnya waktu menjatuhkan kesedihannya
Membiarkan luka yang menyiksa jiwa dan raga
Akhirnya , , ,
Hanya tatapan sesaat serta sedikit kata
Mampu menerangi gelapnya kesedihan
Dengan cahaya yang terang


v  20 : 11 WIB, 7 Desember 2012
Teras Musholla Al-Ikhlash, PP. Darun Najah Semarang
Share:

8 Desember 2012


Keberagaman hidup di dunia ini tidak dapat kita pungkiri keberadaannya. Mulai dari suku, ras, etnis, kepercayaan, keyakinan, bahkan agama. keadaan seperti inilah yang mempunyai potensi terjadinya konflik sosial di masyarakat. Konflik sosial akan lahir ketika ada satu orang atau golongan yang berambisi untuk menghancurkan tatanan golongan yang lain atau menyatukan keberagaman yang ada.
Apakah kita harus menyatukan keberagaman atau perbedaan yang ada ke dalam golongan tertentu? Kalaupun jawabnya “Ya”, bagaimana realitas yang ada. lihatlah di sekeliling kita, banyak sekali keberagaman dan perbedaan mulai hal kecil hingga yang besar. Apakah tidak bisa kita hidup berdampingan dalam keberagaman dan perbedaan? Kalaupun jawabnya “Ya”, dimana rasa saling memahami dan toleransi dengan sesama manusia?. Renungkanlah, pikirkanlah tindakan yang akan kita lakukan. Ingatlah pada Tuhanmu yang selalu ada di hatimu. Serta lakukanlah tindakan yang baik dengan sesama manusia.


*Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh
Share:

7 Desember 2012


Kala malam memanjakan setiap insan untuk berlabuh di pulau kapuk. Terkadang mereka dibawa ke dalam kehidupan yang penuh dengan teka teki, khayal tak khayal, nyata tak nyata. Namun hal seperti ini lah yang diharapkan untuk sejenak menenangkan hati dan pikiran. Melabuhkan mereka ke dermaga kelelapan. Tak khayal apabila manusia tidak ingin pergi dari taman indah dunia ini. Ketentraman nan memanjakan jiwa raga itulah yang menjadikan qiyamul lail sebagai ibadah yang besar pahalanya. Keadaan sepi senyap mampu menghilangkan perasaan riya’ kepada manusia. Menghidupkan kekhusyu’an dalam sembayang pada Ilahi.
Share:

Kehidupan


Teori tak sesempurna kehidupan nyata
Teori hanya mewakili kejadian yang ada
Teori pun bersifat sementara
Layaknya hati dalam diri manusia
Menunculkan perasaan dalam jiwa
Yang tak cukup diungkapkan dengan kata-kata
Untaian kata
Ataupun lekukan raga
Hanya saling menghargai tuk mamahami
Hanya saling peduli tuk saling mengasihi
Hanya saling mempercayai tuk saling meyakini
Demi hidup di dunia ini


* Kamar Umar BK
   Semarang, 6 Desember 2012
Share:

حالة ولد الحنث عند الشريعة الإسلامية


لا شك عندنا، قد انتشر بلاد الزنا في كافة أنحاء حياتنا، يكاد الخبر وصلنا فى كل يوم الخبر سواء من التلفزيون أوالمجلات وغيرهما التى يحدث كالاغتصاب والزنا والبغاء. وبالإضافة إلى ذلك، رأينا كثيرا فى مجتمعنا من الحاملات التى تحمل ل قبل عقد النكاح فكأنم هى العادة التي تحدث في حياتنا.
واعلم بأن هذا المرض المجتمعي، سوف يؤدي إلى نمو الأمراض أو المشاكل في المجتمع. المشكلة ليس بالنسبة لمرتكبي الجرائم والأسرة والمجتمعات فحسب، ولكن مشكلة بالنسبة للولد من علاقة خارج الزواج الشرعي أيضا.  وبذلك ولادة الولد البراء في هذا العالم قد حصلت عليه وجهة النظرية السلبية فى المجتمع، وربما يأت عليه هذه النظرة السلبية عندما كان لا يزال في بطن أمه، ولقب بولد الزنا التي يطلب منه وكل ذلك يحزنه. والمشكلة التي وجهها الولد لا يتوقف هنا، مثل المشكلة النسبية والوصاية والإرث وغيرذلك كالمسائل الاجتماعية الأخرى التي لا تخلو عن وجود هؤلاء الأولاد الأبرياء.
وهذا الواقع لايخلو عن نظر الشريعة الإسلامية. كما عرفنا بأن الشريعة الإسلامية مناسبة لكل الأزمنة والأمكنة. بأن نرى مرة أخرى كيف الفقه الإسلامي عرض حالة الطفل في الأسرة والمجتمع. وهذا يتطلب التفسيروالإيضاح فى الفقه الإسلامي، وإن كان ذلك في الشكل المدمج بحيث يدرك الناس الآثار الرهيبة من الزنا أو الجماع بالنسبة لأولئك الذين لا يؤدون عقدالنكاح. و أن لا ننظر ونعتبر بالنظرية السلبية هؤلاء الأولاد الأبرياء. وهذا الأمر المهم بأن يعرف المجتمع  كيف موقفهم بالنسبة الى الأولاد التى تولد من غير عقد النكاح التى عقره أبواه.
على الرغم من كل ذلك، بأن حقيقة الكلمة "ولد الزنا" لا نجد في القرآن الكريم ولا فى الآحاديث النبوية، ولكنها ووجدنا ذلك فى أقول الفقهاء الذين يسندون الى الولد الذي ولد على المباشرة أو الوطء بغير عقد النكاح الشرعية، وهذه النسبة يطلب على الملعنة، وهي الأولاد التى تتعرضها الزوج، عندما كان الأولاد لا تزال في بطن أمها.
حالة أولاد الحنث
فى الحديث الذى رواه الإمام المسلم عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت اختصم سعد بن أبي وقاص وعبد بن زمعة في غلام فقال سعد هذا يا رسول الله ابن أخي عتبة بن أبي وقاص عهد إلي أنه ابنه انظر إلى شبهه وقال عبد بن زمعة هذا أخي يا رسول الله ولد على فراش أبي من وليدته فنظر رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى شبهه فرأى شبها بينا بعتبة فقال هو لك يا عبد بن زمعة الولد للفراش وللعاهر الحجر واحتجبي منه يا سودة بنت زمعة فلم تره سودة قط. حالة من القداسة فى هذا الحديث هو في سياق العلاقات الزوجية بأن الأولاد الذين ولدوا في وقت قادم لهم الحق الذاتى الى من ينسب عليهم الأب.
وقال أبو حنيفة بأن الولد لديه الإتصال الدمى مع الرجال الذين يشتركون في السرير مع أمه، إذا ولد في خارج الزواج عند أبى حنيفة بأن الولد لا يكون لها الإتصال الدمى مع الأب الذى زنى أمه، وأنه لا يزال محرما (ممنوع الزواج) من قبل هذا الأب ومحرما من قبل الزواج كما قال القرطبي فى بداية المجتهد.
من  هذا الكتاب أيضا، يتنازع علي هذا الرأي الإمام الشافعى ومالك والجمهور،ويقولون الدين بأن ولد الذى يولد على أقل من ستة أشهر بعد مراسم الزواج لا يستطيع أن ينسب إلى الأب الذي تزوج أمه، و ليس له المحرم ولذلك هذا الولد يستطيع أن يتزوج الأب.
ويسترشدون إلى رأي علي بن أبي طالب عندما وقف لخطة الخليفة عثمان بن عفان  الذى ضد امرأة أو تهمة الزنا من زوجها لأن زوجته ولدت ولدا في ستة أشهر (ما يقرب من تسعة  أشهر) من وقت عقد الزواج. فشرح ذلك عثمان بأن القران الكريم شرح مدة الحمل والرضاعة للولد ثلاثين شهر كما جاء في سورة الأحقاف ١٥، ثم يرتبط به فى البقرة ٢٣٣ بأن مدة الرضاعة الطبيعية سنتين، وهذا المراد بأن مدة الحمل على أقصرستة أشهر ومدة الرضاعة على أطول سنتين  كم قال المصنف فى تفسير الالوسي. ولذلك مع أن الوالدة قدع عقد النكاح عندما أقل عن ستة أشهر ثم أباح الولد، فالولد لا يستطيع أن ينسب إلى الأب الذي تزوج والدته.
من هذا التفسير بأن الولد خارج الزواج و الملعنة ينسبان الى أمهما الحكم ينتج من ذلك النسب فحكم ورثة الولد خارج النكاح هو يرث من والدته فقط.  لأن فى الشريعة الإسلامية هذا الولد يكون العلاقة النسبية الى الأم. وأما العلاقة مع الرجل الذى يزنى أمه، فالولد لا يرث الى الرجل الذى يزن أمه، لأن العلاقة الورثة بين الولد والأب يجب أن يكون بينهما سبب الميراث هي النسب. الولد خارج الزواج الصحيح لاينسب نسبا فى الشريعة الإسلامية لهذا الرجل فلا يتوارثا بين هما. ولذلك لايتوارث الولد خارج النكاح الى الأب البيولوجى وأقاربه، وعكس كذا لايتوارث الأب البيولوجى وأقاربه الى الولد خارج النكاح.
وبعد أن نعرف بأن حالة الولد خارج النكاح الشرعي قد سقط علاقة النسب وحق الورثة. فهذا الأساس بإن الولد ليس له محرما لأسرة الأب البيولوجى، لأن علاقة المحرم يحصل بثلاثة أسباب وهي النسب والرضاعة والنكاح.  لأن هذه الأسباب لايوجد للولد، لذلك فهو ليس محرما للأب البيولوجى وأسرته. التوابع من ذلك هو جميع الأحكام المتعلقة بينهما كحرام الخلوة وبطلان الوضوء وغير ذلك. فكان شرحا حالة الولد غير الشرعي او ولد الزنا في علاقة النسب والإرث والمحرم. في هذه المسئلة الولد يصيرضحيا من اجراء الوالدان، ولذلك نحن نحاسن عليه ولا ندعوه بالكليمة "ابن حرام" او "ولد الزنا" لأن ذلك يصير الولد حزنا. وعرفوا بأن كل المولود يولد على الفطرة و الله لا يعذب شحصا للإثم الأخر.
ولذلك، لكي يكون المباشرة بين الرجل و الإمرأة حلالا فيجب أن يكون هناك ما يتقدماعليه هو عقد النكاح. عقد النكاح هو العقد يحكمه الدين الذي يجعل علاقة الحلال بين الزوج والزوجة. حالة الحلال للعلاقة بين الزوج والزوجة بعد عقد النكاح كما أمره الإسلام هو من جوهر العبادة لأن الوصول للمسؤوليات العلاقات الإنسانية إلى الله سبحانه وتعالى بحيث تكون النتيجة من الزواج هو الولد من الزواج الشرعي.

الكاتب: محمد زين المواهـب
Share:

Karikatur NII

Share:

Mewujudkan Kemakmuran dalam Keberagaman


Manusia diciptakan oleh Tuhan tidak ada yang sama, bahkan yang lahir kembar dari rahim yang sama pun pasti memiliki perbedaan. Apakah itu di warna kulit, sifat dan lain sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita memiliki perbedaan dalam bertingkah laku dan berinteraksi dengan sesama, yang tentunya tidak sama dengan yang lain. Untuk menyamakan persepsi dari berbagai perbedaan yang ada, maka diperlukan musyawarah dan mufakat untuk mencari sebuah kesepakatan.
Inilah pola yang terjadi awal terbentuknya negara Indonesia, semenjak nenek moyang bangsa Indonesia menempati kepulauan ini, dengan budaya, ras, kepercayaan dan suku yang sangat beragam. Bahkan jumlahnya ratusan, sehingga mereka mampu hidup berdampingan. Saling menghargai dan membutuhkan, itulah sikap yang diterapkan. Tidak ada ambisi di antara mereka untuk menyamaratakan budaya ke dalam satu kebudayaan tunggal. Dan akhirnya terbingkai dalam sebuah dasar negara atau falsafah bangsa yaitu Pancasila.
Sebagai dasar negara, Pancasila mengakui keberadaan bermacam-macam agama, suku bangsa, filsafat, dan aliran politik dalam kehidupan rakyat Indonesia. Kita mengenal semboyan yang terkenal dengan “Bhineka Tunggal Ika”. Soekarno sendiri mengatakan, “Negara Republik Indonesia bukan milik sesuatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai ke Merauke!” Bahkan, di dalam UUD 1945 disebutkan: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”
Ini artinya, Negara Republik Indonesia sejak lahirnya bukan saja toleran, tetapi mengakui keberagaman itu sebagai dasar pembentuk negara-bangsa ini. Dengan demikian, bhineka tunggal ika itu justru merupakan raison d’etre lahirnya negara-bangsa bernama Indonesia.
Tetapi, fenomena tersebut berubah, yang asalnya harmonis menjadi anarkis. Keberagaman budaya yang selama ratusan, bahkan ribuan tahun yang telah mampu mengantarkan rakyat Indonesia ke pulau sejahtera, dirasa hilang ditelan bumi.
Ini dikuatkan dengan adanya korupsi, pencurian, pemerkosaan, bentrok antarwarga, tawuran antar mahasiswa dan sebagainya. Bahkan akhir-akhir ini banyak terjadi tindakan kekerasan, perusakan dan penyerbuan dengan motif beda keyakinan dalam memahami agama, seperti kasus penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah di Cikeusik, penyerangan terhadap kelompok Syiah di Sampang, Madura dan sebagainya. Selain itu, konflik antar agama juga sering terjadi seperti kasus di Gereja GKI Yasmin Bogor, perusakan gereja di Temanggung dan kasus-kasus yang lain. Bentuk-bentuk berita, termasuk yang sangat signifikan tentang kasus suku, agama, ras dan antar-kelompok (SARA) itu seakan menjadi menu utama di media masa. Hal tersebut mencerminkan rasa saling membutuhkan antara satu dengan yang lain sudah tak hidup lagi. Diri sendiri lah yang dipikirkan, tanpa berpikir bagaimana seandainya ia hidup sendiri di sebuah tempat.
Mewujudkan Kemakmuran
Semua ini akibat dari masyarakat Indonesia yang telah melupakan akar-akar budayanya sendiri. Serta melemahnya implementasi nilai-nilai persatuan yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika. Dan juga kurangnya sifat kritis dalam proses pengambilan budaya lain. Seandainya mereka mempunyai sikap menghargai, serta mengkritisi kebudayaan lain, maka hal itu mungkin tidak akan terjadi.
Dalam rangka berbenah diri, seperti Indonesia pada sediakala, anti anarkis. Maka rakyat Indonesia diharapkan mengimplementasikan kembali makna Bhineka Tunggal Ika yang dirasa telah luntur. Karena keberadaannya tidak dapat diingkari dalam mewujudkan kesatuan Indonesia dengan keberagaman yang dimiliki. Bahkan keberanian Indonesia untuk mengumandangkan kemerdekaan didukung penuh oleh persatuan seluruh kebudayaan Indonesia.
Kesatuan dari keberagaman adalah sistem yang menjalin hubungan dalam kehidupan. Karena kesatuan akan bermakna jika ada keberagaman sehingga antara satu dengan yang lain itu saling membutuhkan. Apabila salah satu unsur menyakiti atau meniadakan. Maka bukan hanya satu unsur yang akan hancur, tapi keseluruhan kesatuan akan goyah.
Selain itu juga, setidaknya ada terdapat tiga hal yang harus dilakukan dalam memelihara keberagaman sehingga ia bisa menjadi pemersatu, bukan sumber masalah. Pertama, memperkuat nilai toleransi. Kadar toleransi bersumber dari adanya nilai empati yang secara inheren sudah ada dalam hati setiap orang. Empati merupakan kemampuan hati nurani kita untuk ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kemampuan untuk ikut bergembira dan berduka dengan kegembiraan dan kedukaan orang lain
Kedua, berani mengakui perbedaan. Pengakuan akan ke-bhinneka-an membuat kita sadar bahwa tidak semua hal dapat diperlakukan dengan sama. Sikap ini akan melahirkan penghargaan dan saling ketergantungan sehingga pada akhirnya bermuara pada peningkatan kemampuan adaptasi individu dan kelompok.
Ketiga, memperkuat pendidikan. Pendidikan adalah proses membuat orang berbudaya dan beradab. Pendidikan yang dibutuhkan adalah proses pendidikan yang dapat mempertahankan dan meningkatkan keselarasan hidup dalam hubungan antara sesama. Penekanannya adalah pada cara membangun hubungan antar individu, antar kelompok dan antar individu dengan kelompok.
Memelihara keberagaman di negara Indonesia dalam kehidupan bersama, berarti menjadikannya aset yang tidak ternilai. Dengan memeliharanya kita dapat mengawal kalimat berbeda-beda, tetapi tetap satu menjadi ungkapan universal bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Ini makin ditegaskan melalui pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Inilah momentum kelahiran filosofi bangsa yaitu Pancasila. Di saat itu  Bung Karno mengatakan, “Kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua. Itulah yang melahirkan kita sebagai sebuah “negara nasional”.
Share:

Menelisik Jati Diri Mahasiswa Melalui Tradisi


Kuliah merupakan tempat pendidikan formal, pasca lulus dari SLTA. Pada umumnya, seseorang yang dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan merupakan golongan masyarakat menengah ke atas. Di sini terlihat, permasalahan ekonomi menjadikan salah satu alasan para orang tua untuk tidak melanjutkan anak-anaknya ke tingkat perkuliahan.
Sungguh bahagia, mereka yang mempunyai kesempatan untuk mengenyam di bangku perkuliahan. Terlebih, apabila dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, baik di tingkat Magister maupun di tingkat Doktor. Sehingga, tidak bijaksana apabila kesempatan seperti ini hanya dibuat dolanan (main-main).
Mahasiswa sebagai kaum terpelajar yang paham akan statusnya, akan terus mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di tempat perkuliahan. Dengan sifat kritis yang menempel di “baju” mahasiswanya, diharapkan dapat membawa keadaan kehidupan sosial ke ranah yang lebih baik. Sehingga mahasiswa akan pantas memperoleh “gelar” pemuda pembawa perubahan (agent social of changes). Selain itu, diharapkan gerakan ini juga diimbangi dengan menjaga nilai-nilai yang telah lama tertanam di dalam masyarakat (guardian of value).
Ironis, jika setiap tahun PT di Indonesia melahirkan banyak intelektual muda yang jumlahnya sampai ribuan, tapi tidak dapat membawa keadaan yang lebih. Dan lebih ironis lagi, apabila banyak terlahir intelektual bukannya menghentikan kekacauan, tapi sebaliknya malah membuat keadaan semakin semrawut (kacau balau). Tidak lain, inilah tujuan dari mengenyam pendidikan di bangku kuliah, sebagai tempat untuk berproses.
Bahkan tak sedikit orang yang menganggap bahwa di dunia kampus bagaikan miniatur negara atau bangsa. Dimana ini akan mengajarkan mereka dalam mengatasi permasalahan yang nantinya ada di lingkungan mereka.
Trilogi Intelektual
Disadari atau tidak, bagi mahasiswa yang ingin menjadi inteletual tidak serta merta masuk ke perguruan tinggi. Dengan benar-benar memanfaatkan moment belajar di PT, sehingga nantinya menjadi menjadi orang yang berpengetahuan luas. Niat seperti ini perlu ditanamkan kembali dalam hati mahasiswa. Tapi semua itu dirasa kurang cukup dan masih  membutuhkan sebuah proses yang panjang. Menengok tradisi yang ada di lingkungan perguruan tinggi, setidaknya mahasiswa harus sadar akan tiga hal yang harus dilakukan mahasiswa dan mentradisikan hal tersebut setiap waktu, yaitu membaca, menulis dan diskusi.
Mentradisikan “dunia baca” akan membawa mahasiswa ke dunia pengetahuan yang lebih luas. Demikian karena, dengan membaca mahasiswa akan mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui. Bahkan sebuah kejahatan intelektual apabila mahasiswa yang tidak menyukai dunia membaca. Karena membaca dapat membuka tabir rahasia semesta. Sehingga tidak terbatas apa yang harus dibaca, baik surat kabar, majalah, tabloid, buletin maupun membaca fenomena sosial yang sedang hangat terjadi, termasuk membaca dunia pergulatan politik.
Di sisi lain, mahasiswa harus mentradisikan menulis karena menulis merupakan sarana aktualisasi diri. Sebagai seorang mahasiswa, tentu saja meraka harus memiliki pengetahun yang lebih ketimbang orang yang tidak dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Dengan lewat tulisan, mereka dapat mengaktualisasikan ilmu kepada yang lain lewat sebuah tulisan, baik itu lewat media cetak ataupun cyberspace. Selain itu, tulisan sebagai sarana menyuarakan gagasan dan ide dalam menyikapi persoalan yang sedang gencar di masyarakat. Bahkan dengan tulisan gagasan dan ide tersebut akan lebih tersebar luas.
Tidak cukup seorang mahasiswa memahami pergulatan intelektual dengan hanya membaca dan menulis, tanpa disertai dengan dunia diskusi. Di bangku perkuliahan akan banyak ditemui sesama mahasiswa yang berlatar belangan yang berbeda-beda. Dengan adanya diskusi akan, maka tercermin sebuah pergulatan wacana yang di dalamnya termuat ragam pengetahuan, gagasan dan ide yang tentu berbeda-beda pula. Tidak sedikit, ketika berdiskusi akan mendengar dan mengetahui gagasan dan ide yang dirasa baru dalam menyikapi suatu permasalahan dengan argumen yang mengelitik. Dari sekian ragam perspektif yang berbeda latar belakang tersebut, tidak menutup kemungkinan perpaduan dari berbagai pendapat menjadi sebuah pandangan yang baru.
Ketiga hal inilah yang akan membawa title (gelar) yang memang pantas mereka sandang. Dengan ini para mahasiswa akan mampu bertanggung jawab akan gelar yang ia sandang dan benar-benar telah memanfaatkan kesempatan berproses di bangku perkuliahan. Tidak hanya itu, hendaklah mahasiswa mulai meluruskan kembali tujuan mengenyam di bangku perkuliahan. Sangat tidak arif, apabila tujuan mereka hanya untuk kepentingan pribadi, tanpa memberikan konstribusi kepada bangsa yang telah memfasilitasi dalam memperoleh apa yang mereka cita-citakan. Inilah sebenarnya tugas utama dan paling utama keberadaan mahasiswa sebagai intelektual muda. Yakni menumbuhkembangkan kembali harapan-harapan masyarakat dalam proses perbaikan bangsa menjadi lebih baik. Dan ini dapat diraih dengan membaca, menulis dan berdiskusi. Bukankah begitu!
Share:

Dibalik Semangat Mahasiswa Baru


Akhir-akhir ini, para mahasiswa baru sedang disibukkan dengan berbagai persiapan dalam menghadapi masa orientasi di kampus. Mereka rela kesana-kemari untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan nantinya. Dimana dalam masa orientasi tersebut mahasiswa diperkenalkan dengan institusi kampus. Tak hanya itu, mahasiswa akan dilatih sifat displin dan juga mental.
Semangat inilah yeng selalu tercermin dari seorang mahasisa baru di setiap awal tahun akademik. Jadi tak heran apabila mereka begitu bersemangat untuk mengikuti masa orientasi. Mungkin inilah semangat yang timbul akibat ia dapat melanjutkan ke jenjang perkuliahan.
 Tidak sedikit, setelah selang beberapa hari, bulan bahkan tahun, semangat yang dulu berkobar-kobar justru malah semakin menurun, tidak seperti sediakala ketika masa awal-awal masuk perkuliahan. Seperti yang ada di dalam istilah jawa,  ini tidak lain adalah semangat “anget-anget tai ayam” (hangat-hangat kotoran ayam).
Mahasiswa baru diharapkan untuk bisa menyiapkan cara bagaimana semangat tersebut tidak pernah luntur dalam benak hati. Buatlah semangat tersebut sebagai motivator yang selalu memonpa untuk melakukan segala hal yang dapat meningkatkan intelektual. Sebagai bekal dalam menghadapi permasalahan yang anda hadapi di kemudian hari. Bukankah itu tujuan anda belajar di perguruan tinggi.
Share:

Peran Mahasiswa untuk Bangsa



Mahasiswa merupakan sekelompok elemen masyarakat yang unik. Sebab ada sesuatu yang tidak berubah pada diri mahasiswa, yaitu semangat dan idealisme. Walaupun zaman selalu menuntut perubahan. Terbukti dengan perjuangan bangsa Indonesia yang tidak lepas dari campur tangan mahasiswa.
Menengok ke belakang, kebangkitan bangsa Indonesia ketika melawan penjajahan Belanda dimotori oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA. Di waktu lain, ketika pemerintahan Bung Karno labil. Karena situasi politik yang memanas pada tahun 1966, mahasiswa tampil memberikan semangat bagi pelaksanaan Tritura. Inilah segelintir dari sekian banyak perjuangan idealisme mahasiswa untuk bangsa.
Akan tetapi, ada tuduhan yang menyatakan bahwa mahasiswa sekarang hanya bisa bicara. Tak ada tindakan nyata atas gagasan yang ditawarkan oleh mahasiswa. Tentu tuduhan tersebut ada benarnya juga, jika mahasiswa hanya mementingkan kebutuhan dirinya. Tanpa memberikan konstribusi terhadap bangsa. Maka dari itu, hendaklah mahasiswa sadar akan status yang diemban. Dalam hal ini, mahasiswa dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Berbekal kekuatan dan potensi yang dimilikinya, berupa semangat dalam menyuarakan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. Serta keberanian dalam menentang segala bentuk ketidakadilan. Maka mahasiswa menempati posisi yang penting dalam upaya pemberantasan ketidakadilan.
Pemberantasan ketidakadilan, dapat dilakukan dengan menyebarkan informasi atau tanggapan atas kebijakan pemerintah yang menyengsarakan bangsa. Seperti mengadakan jumpa pers, opini publik, diskusi terbuka dengan pihak-pihak yang berkompeten. Dan dengan jaringan luas yang dimiliki mahasiswa, mereka dapat saling berkoordinasi. Baik antar mahasiswa, maupun dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Sehingga tercipta kekuatan yang besar untuk menekan pemerintah, agar pemerintah mengambil keputusan yang ideal untuk bangsa.
Inilah sebenarnya kekuatan mahasiswa. Di satu sisi, mahasiswa mampu mendorong dan menggerakan masyarakat untuk bertindak atas ketidakadilan sistem, termasuk di dalamnya penyelewengan jabatan. Di sisi lain, mahasiswa sebagai faktor penekan bagi penegakan hukum serta pengawal terciptanya kebijakan publik yang berpihak kepada kepentingan masyarakat banyak.
Share:

Curug Lawe Medini 22 April 2012












Share:

Tafsir Ayat Tentang Anjuran Menikah dan Larangan Melacur (Al-Nur: 32-34)




MAKALAH

OLEH:
MUHAMAD ZAINAL MAWAHIB (092111127)
MAHASISWA FAKULTAS SYARI'AH
IAIN WALISONGO SEMARANG

TAFSIR AYAT TENTANG
ANJURAN MENIKAH DAN LARANGAN MELACUR
(AL-NUR: 32-34)

PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Pernikahan adalah ikatan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri. Ia merupukan pintu gerbang kehidupan berkeluarga yang mempunyai pengaruh terhadap keturunan dan kehidupan masyrakat. Keluarga yang kokoh dan baik menjadi syarat penting bagi kesejahteraan masyarakat dan kebahagiaan umat manusia pada umumnya. Agama mengajarkan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang suci, baik, dan mulia. Pernikahan menjadi dinding kuat yang memelihara manusia dari kemungkinan jatuh ke lembah dosa yang disebabkan oleh nafsu birahi yang tak terkendalikan.
Banyak sekali hikmah yang terkandung dalam pernikahan, antara lain Pernikahan dapat menciptakan kasih sayang dan ketentraman. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai kelengkapan jasmaniah dan rohaniah sudah pasti memerlukan ketenangan jasmaniah dan rohaniah. Keutuhan jasmaniah perlu dipenuhi dan kepentingan rohaniah perlu mendapat perhatian. Ada kebutuhan pria yang pemenuhnya bergantung kepada wanita. Demikian juga sebaliknya. Pernikahan merupakan lembaga yang dapat menghindarkan kegelisahan. Pernikahan merupakan lembaga yang ampuh untuk membina ketenangan, ketentraman, dan kasih sayang keluarga.
Sebagaimana firman Allah: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”(Al-Rum:20).
Dengan melihat idealnya hikmah dari pernikahan, maka Allah melalui ayat yang lain yaitu ayat 32-34 pada surat An-Nur. Dimana didalamnya menjelaskan tentang anjuran menikah dan larangan melacur. Berdasakan hal tersebut, penulis akan memaparkan penjelasan dalam rangka mengupas secara mendetail kandungan ayat tersebut. Dengan tujuan agar kita dapat memahami secara mendalam dan komprehensif tentang pemahaman yang terdapat di dalam ayat tersebut. Karena ayat tersebut merupakan salah satu ayat ahkam yang ada di dalam al-Qur’an.
  1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok utama dalam pembahasan makalah ini adalah membahas anjuran menikah dan larangan melacur pada surat An-Nur;32-34. Pembahasan tersebut dapat dibentuk dalam sebuah rumusan masalah sederhana agar mempermudah dalam memahami. Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana makna global dalam ayat tersebut serta munasah ayat dengan ayat sebelumnya?
2.      Bagaimana analisis hukum dan hikmat al-tasyri’ yang terkandung dalam ayat tersebut?
PEMBAHASAN
Firman Allah dalam surat Al-Nur: 32-34:
وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (۳۲) وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآَتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آَتَاكُمْ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ (۳۳) وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آَيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلًا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (۳۴)
Artinya:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(32).
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan merek], jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu”(33).
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”(34).
  1. Ma’na al-Mufradat
الْأَيَامَى : merupakan jama dari kata أيّم yang berarti orang yang belum beristri atau belum bersuami, baik statusnya itu perawan/perjaka maupun sudah janda/duda. Dalam bahasanya orang Arab الْأَيَامَى: mereka yang tidak berpasanganan, baik dari laki-laki maupun perempuan.
عِبَادِكُمْ : berarti budak
وَاسِعٌ : Dzat yang memiliki kekayaan luas yangmana Allah memberikan rezeki tersebut kepada orang yang Dia kehendaki dari hamba-Nya.  
عَلِيمٌ : Maha mengetahui segala kebutuhan manusia dan sesuatu yang baik bagi mereka. Maka Dialah yang melimpahkan rezeki serta membagikan kepada mereka.
وَلْيَسْتَعْفِفِ : sebuah perintah untuk untuk menjauhan diri (العفة), bahasanya orang Arab العفة : menahan diri dari sesuatu yang tidak halal dan tidak baik. Ada juga yang mengartikan sabar dan menjauhkan/membersikan dari sesuatu.
الْكِتَابَ : Az-Zamakhsyari berkata الكتاب والمكاتبة كالعتاب والمعاتبة, yaitu seseorang berkata kedapa budaknya: “saya menggantikan kamu dengan seribu dirham, jika kamu sudah menjalankan maka kamu bebas/merdeka”.[1]
خَيْراً : kata الخير digunakan yang berhubungan dengan harta, sebagai dalam ayat "ان ترك خيرا الوصية للوالدين", tapi pendapat ini lemah, ada juga yang menghubungkan dengan perbuatan. Adapun lebih shahih adalah berarti: kebaikan, kejujuran dan kesetiaan. Maksudnya: jika kalian mengatahui kapasitas penghasilan, kesetiaan dan kejujuran mereka, maka mukatabah-lah atas kemerdekaan diri mereka.
فَتَيَاتِكُمْ : merupakan jama’ dari فتاة (pemuda), Al-Alusi berkata: setiap kata dari “ فتى” dan “ فتاة ” itu adalah kinayah masyhurah dari “العبد  dan  الأمة
الْبِغَاءِ : bentuk jama’nya بغايا : pelacur, maksudnya: memaksa budak untuk melacur/berzina. Dalam hadits: “نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن مهر البغي ”.
تَحَصُّناً : bermakna تعففاً, sebagaimana dalam penjelasan العفة.
عَرَضَ الْحَيَاةِ : harta kehidupan, yaitu keperawanan.
آَيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ : ayat-ayat yang memberikan penerangan/penjelasan.
  1. Al-Ma’na al-Ijmali
Nikahkanlah orang-orang yang belum bersuami atau belum beristri. Tegasnya, berikanlah pertolongan kepada mereka sehingga mereka dapat melaksanakan pernikahan.
Nikahkanlah juga budak-budakmu, baik laki-laki maupun perempuan yang sanggup berumah tangga, sanggup memenuhi haknya, sehat badan, bekecukupan serta dapa melaksanakan hak-hak agama yang wajib bagi mereka. Janganlah kamu melihat kemiskinan orang yang meminang atau kemiskinan orang yang akan kamu nikahi. Karena Allah mempunyai keluasan dan kekayaan. Tidak ada penghabisan bagi keutamaan-Nya dan tidak ada batasan bagi kodratnya. Dia bisa memberi rezeki yang cukup kepada suami istri tersebut. Serta Allah juga Maha mengetahui. Dia memberi rezeki yang lapang kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia menyempitkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki.
Bgai mereka yang tidak memperoleh jalan yang memungkinkan untuk menikah, hendaklah mengguhkan niatnya sampai mempunayi kemampuan untuk itu.
Apabila budakmu yang ingin memerdekakan diri secara mukatabah, dengan cara membayar uang tebusan sesuai perjanjian, maka penuhilah keinginan mereka dan jadikanlah mereka orang yang merdeka setelah mereka memenuhi apa yang telah diperjanjikan. Serta Allah juga mendorong para tuan (pemilik) budak yang bersangkutan untuk memberikan sebagian hartanya kepada budak yang dimilikinya untuk dapat dipergunakan membayar tebusan atas dirinya.
Janganlah memaksa budak perempuanmu supaya mereka melacurkan diri untuk mencari kekayaan, sedangkan mereka sesungguhnya tidak mau malakukannya. Perempuan yang dipaksa melacur akan diampuni dosanya oleh Allah dan dosa itu dipikul oleh orang yang memaksanya.
 Kami (Allah) telah menurunkan kepadamu ayat-ayat al-Qur’an yang nyata, yang menjelaskan segala apa yang kamu perlukan. Sebagaimana Allah telah menurunkan kisah-kisah umat terdahulu dan berbagai macam pelajaran yang menjadi ibarat atau contoh bagi semua orang yang bertaqwa.
  1. Asbabul Nuzul Ayat
Untuk lebih memahami kandungan ayat-ayat al-Qur’an, kiranya diperlukan pengetahuan latar belakang turunnya (Asbabul Nuzul) ayat tersebut. Imam Al-Wahidi berpendapat bahwa mengetahui tafsir suatu ayat al-Qur’an tidaklah mungkin tanpa mengetahui latar belakang peristiwa dan kejadian turunnya ayat tersebut. Ibnu Daqiqil ‘Id berpandangan bahwa mengatehui keterangan tentang kajadian turunnya suatu ayat merupakan cara yang paling baik untuk memahami makna ayat tersebut. Begitu juga Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui asbabul nuzul suatu dapat menolong kita dalam memahami makna ayat tersebut.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa tidak semua ayat al-Qur’an mempunyai asbabul nuzul. Dari tiga ayat al-Qur’an dalam pembahasan tentang anjuran menikah dan larangan melacur ini, hanya ada satu ayat yang mempunyai asbabul nuzul yaitu ayat: 33. Berikut inilah beberapa riwayat asbabul nuzul ayat tersebut:[2]
1.      Diriwayatkan oleh Ibnu Sakan dalam kitab Ma’rifatush Shahabah dari Abdullah bin Shuhaibah yang bersumber dari bapaknya.
Dikemukakan bahwa Shubaih, hamba sahaya Huwaithib bin ‘Abdil ‘Uzza, meminta dimerdekakan dengan perjanjian tertentu. Akan tetapi permohonannya ditolak, maka turunlah ayat ini (Q.S. An-Nur:33).
2.      Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sufyan yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah.
Dikemukakan bahwa Abdullah bin Ubay menyuruh jariahnya (hamba sahaya wanita) melacur dan meminta bagian dari hasilnya. Jariah tersebut bernama Masikah dan Aminah yang mengadukan kepada Rasulullah tentang hal tersebut. Lanjutan dari ayat ini (Q.S. An-Nur:33) berkenaan dengan peristiwa tersebut.
3.      Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abuz Zubair yang bersumber dari Jabir.
Dikemukakan bahwa Masikah itu jariah milik seorang Ansar. Ia mengadu kepada Rasulullah bahwa tuannya memaksa untuk melacur.
4.       Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabarani dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas.
Dikemukakan bahwa Abdullah bin Ubay mempunyai seorang jariah yang suka disuruh melacur sejak zaman jahiliah. Ketika zina diharamkan, jariah tersebut tidak mau lagi melakukannya.
5.      Diriwayatkan oleh sa’id bin Manshur dari Sya’ban, dari Amr bin Dinar yang bersumber dari Ikrimah.
Dikemukakan bahwa Abdullah bin Ubay mempunyai dua orang jariah, Mu’adzah dan Masikah. Keduanya dipaksa untuk melacurkan diri. Berkatalah salah seorang di antara kedua jariah itu: “sekiranya perbuatan itu baik, engkau telah memperoleh hasil banyak dari perbuatan itu, namun sekiranya perbuatan itu tidak baik, sudah sepantasnya aku meninggalkannya”.
  1. Munasabah Ayat
Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah telah memperingatkan kita untuk berhati-hati dari pelacuran dan tindakan yang tidak bermoral. Kemudian allah melarang perbuatan zina dan segala motif yang bisa mengantarkan pada perbuatan zina, seperti melihat perempuan, bercampur dengan mereka, membuka aurat, memperlihatkan perhiasan, memasuki rumah tnapa ada izin dan sebgainya. Dimana hal tersebut dapat merusak akhlak serta mendatangkan kerusakan.[3]
Sedangkan dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa menikah sesuatu yang yang disukai oleh-Nya. Allah juga memerintah untuk membantu dalam mempermudahh jalannya pernikahan tersebut. Karena nikah merupakan sesuatu yang baik bagi orang mukmin untuk menjauhkan diri dan mencegah dari perbuatan zina, serta menjauh dari perbuatan yang tidak halal, sebab nikah satu-satunya cara untuk melanggengkan keturunan manusia. Berdasarkan hal tersebut, maka ayat ini mendorong pemuda dan pemudi dengan melalui pernikahan dan mengajak mereka untuk menghapuskan segala hambatan yang menghambat jalannya pernikahan, baik itu berupa yang bersifat fasilitas maupun tidak. Inilah gambaran munasabah dengan ayat-ayat sebelumnya.[4]
  1. Analisis Kandungan Hukum
Ada beberapa kandungan hukum yang ada di dalam ayat tersebut. Adapun rinciannya sebagai berikut:
1.      Ayat tersebut ditujukan kepada siapa?
Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini bersifat umum, maksudnya hai orang mukmin nikahkanlah orang yang belum berpasangan dari laki-laki da perempuan yang merdeka. Ada pendapat lain bahwa ini ditujukan kepada wali merdeka saja, seperti orang tuanya,  pendapat ini diikuti oleh Al-Qurtubi.[5] Bahkan ada yang berpendapat bahwa ini ditujukan pada para suami dengan alasan merekalah yang diperintah untuk menikah.[6]
2.      Apakah menikah itu wajib atau sunnah?
Dalam hal ini para ulama fiqih berbeda pendapat:
a.       Mazhab Al-Dhahiriyah: menikah itu wajib, maka akan mendapat dosa apabila ditinggalkan.
Dengan dalil dalam ayat tersebut menggunkan shighat amar (perintah) “وانكحوا” dan amar ini menunjukkan arti wajib, maka nikah hukumnya wajib. Serta dengan pernikahan ini dapat menghindarka diri dari keharaman, “suatu hal yang dapat menjadikan ketidaksempurnaan kecuali dengan hal itu,  maka hal tersebut juga wajib”.
b.      Mazhab Syafi’i: menikah itu mubah dan tidak dosa apabila ditinggalkan.
Denga dalil karena menikah itu suatu perbutan untuk memperoleh kesenagan dan syahwat, maka hal tersebut mubah seperti halnya makan dan minum.
c.       Mazhab Jumhur (al-Malikiyah, al-Ahnaf dan al-Hanabilah): menikah itu  مستحب  dan  ومندوب, tidak wajib.
Dengan dalil:
1.      Tidak dapat diingkari pada masa nabi dan seluruh masa sesudahnya, terdapat banyak laki-laki dan perempuan yang tidak menikah, dan nabi tidak mengingkari hal itu.
2.      Hadits Nabi: أحب فطرتي فليستن بسنتي وإن من سنتي النكاح
3.      Hadits Nabi: من رغب عن سنتي فليس مني
Al-Qurtubi berpendapat bahwa perbedaan pendapat tersebut karena perbedaan di lihat dari keadaan orang mukmin itu snediri. Jika ia takut akan kerusakan dalam agamanya atau dunianya maka menikah hukumnya wajib. Dan jika ia mampu mengendalikan diri (tidak takut akan agamanya) serta ada keluasan untuk menikahi orang merdeka, maka sunnah baginya. Sedangkan orang yang tidak keluasan maka sebisa mungkin ia menahan diri meskipun berpuasa, karena berpuasa adalah pemutus baginya.[7]
Hasbi Ash-Shiddieqy juga memberi penjelasan bahwa perintah yang dikandung dalam ayat ini merupaka anjuran, bukan suatu keharusan, kecuali apabila hal itu telah diminta oleh si perempuannya sendiri. Dasarnya kita menetapka bahwa perintah ini bukanlah wajib karena kenyataan pada masa nabi sendiri terdapat orang-orang yang dibiarkan hidup membujang. Tetapi dapat dikatakan perintah di sini adalah wajib apabila dengan tidak menikah mereka yang bujang itu dikhawatirkan akan timbul fitnah.[8]
3.      Dalam ayat وَلْيَسْتَعْفِفِ الذين لاَ يَجِدُونَ نِكَاحاً sebagai dalil larangan nikah mut’ah.
Apabila kita perhatikan susunan ayat-ayat ini dan dengan sebelumnya, Allah mula-mula menyuruh kita memelihara diri dari fitnah dan maksiat, yaitu seperti memjamkan mata dari melihat bagian tubuh lawan yang dilarang. Sesudah itu Allah menyuruh kita menkah untuk memelihara agama dan berikutnya menyuruh kita menahan diri dari hawa nafsu.Pada akhirnya Allah menyuruh kita menahan syahwat ketika kita tidak sanggup menyediakan keperluan yang dibutuhkan oleh suami istri sehingga mereka mendapatkan kesanggupan. Dengan begitu Allah memerintah kita untuk bersabar dari menikah, jika tidak mampu memberikan belanja keperluan rumah tangga nantinya.[9]
Dengan demikian bagi seseorang yang sudah berkeinginan kuat untuk menikah, sedangkan ia belum mempunyai harat maka bersabarlah menahan syahwatnya, bukan nya melakukan nikah mut’ah. Sebagaimana hadit Nabi:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
4.      Larangan melacur
Dalam firman Allah وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ, maksudnya janganlah kamu sekalian memaksa budak perempuanmua supaya mereka melacurka diri untuk mencari kekayaan, sedangkan mereka sesungguhnya tidak mau. Firman Allah ini tidak memberi pengertian bahwa larangan memaksa mereka melacur diri adalah jika mereka tidak menyukainya. Sebenarnya, walaupun mereka menyukainya, kita tetap tidak boleh menyuruh mereka untuk melacurkan diri. Sebagai dalam riwayat asbabul nuzul ayat ini diturunkan.[10]
Ibnu Mardawaih mengeluarkan riwayat dari Ali karamallu wajhah, bahwa pada masa jahiliah, orang-orang memaksa budak-budak wanitanya utnuk berzina atau melacur agar mereka dapat mengambil upahnya, lalu Islam turun melarang mereka berbuta demikian dan kahirnya turun hal tersebut.[11]
5.      Bagaimana yang dimaksud dengan pemaksaan untuk melacur di sini dan apakah dihilangkan hadnya sebab dipaksa bagi laki-laki dan perempuan?
Dalam firman Allah وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ bahwa pemaksaan di sini adalah sesuatu yang dapat mendatangkan kerusakan pada jiwa, seperti mengancam akan dibunuh atau juga sesuatu yang dapat merusak anggota tubuh. Adapun jika pemaksaan tersebut bersifat ringan maka itu tidak bisa dikatakan pemaksaan.
Sesungguhnya pemaksaan dapat menggugurkan pentaklifan bagi manusia dan dosa patut diberika kepada orang yang dipaksa. Dimana orang yang dalam keadaan dipaksa untuk melakukan zina maka dia sama halnya dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur. Dalam firman Allah إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بالإيمان, maksudnya jika seseorang itu dipaksa untuk melacur, tapi dia merasa senang maka itu tidak bisa dikatakan pemaksaan.
Sedangkan dalam penghilangan had, menurut Jumhur ulama mengatakan bahwa penghilangan had bagi laki-laki dan perempuan seperti dihilangkannya dosa dalam ayat di atas, karena hukumnya seorang laki-laki sama dengan hukumnya seorang perempuan. Ini berdasarkan hadits Nabi:
 عن أمتي الخطأ ، والنسيان ، وما اسْتُكرهوا عليه
Dalam hal ini Abu Hanifah menambahi bahwa jika seorang laki-laki dipaksa seorang perempuan maka itu juga tidak bisa dikatakan pemaksaan yang maksud di sini.
  1. Hikmat al-Tasyri’
Allah mensyari’atkan pernikahan itu untuk mengatur manusia dengan tujuan mulia dan manfaat yang besar. Dan Allah memerintah untuk memudahkan jalannya pernikahan karena pernikahan cara yang tepat untuk mereproduksi keturunan, sehingga tersebar luas penduduk bumi dengan keturunan yang benar. Allah tidak menghendaki ada kekacauan di antara laki-laki dan perempuan, yang saling meninggalkan dan melantarkan seperti yang terjadi pada binatang. Tetapi dengan meletakkan peraturan tepat yang melindungi martabat manusia dan melestarikan kehormatan. Sehingga tercipta hubungan laki-laki dan perempuan dengan hubungan yang bersih dan murni atas dasar saling ridla. Dengan ini wanita akan merasa dilindungi dan aman.
Dengan cara ini merupakan cara yang paling aman untuk memuaskan dan memenuhi naluri dan syahwat yang bebas dari gangguan. Sebagaimana Allah mengizinkan mereka dan ini ditujukan dalam ayat:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”(An-Nur: 22)
Pernikahan merupakan cara yang terbaik untuk memiliki anak, memperbanyak keturunan dan melanjutkan kehidupan dengan tetap menjaga garis keturunan. Rasulullah menggambarkan bahwa pernikahan adalah harta yang paling baik di kehidupan ini. “الدنيا متاعٌ وخيرُ متاعها المرأةُ الصالحة”. Bahkan Nabi juga pernah menyatakan bahwa wanita shalihah adalah harta yang tersimpan.
ألا أخبركم بخير ما يكنز المرء؟ المرأة الصالحة إن نظر إليها سرته ، وإن أمرها أطاعته ، وإن غاب عنها حفظته في نفسها وماله.
Islam memerintah untuk memudahkan jalannya pernikahan agar kehidupan ini berjalan pada normalnya. Dan juga Islam memerintah menghilangkan semua hambatan dari berbagai segi, termasuk keuangan yang menjadi hambatan yang paling utama dalam membentuk rumah tangga. Maka dari itu Allah memperingatkan untuk tidak boleh berpaling dari pernikahan bagi orang miskin. Karena rezeki dibawah kekuasaan Allah, walaupun ia memilih untuk menahan diri. Maka dari itu, semua umat harus membantu mereka dalam proses pernikahannya dan juga membantu dalam menyediakan lapangan pekerjaan agar mereka tetap menjadi satu anggota kemasyarakatan yang tidak lumpuh.
Al-Qur’an memberikan kesempatan menikah bagi pemuda yang sudah siap, bagi yang belum siap Allah memerintahkan untuk menahan diri dari hal-hal yang haramm. Sebagaimana dalam ayat
  وَلْيَسْتَعْفِفِ الذين لاَ يَجِدُونَ نِكَاحاً حتى يُغْنِيَهُمُ الله مِن فَضْلِهِ.
Di bawah ini dikemukakan beberapa hikmah pernikahan dan larangan pelacuran:
1.      Pernikahan dapat menciptakan kasih sayang dan ketentraman
2.      Pernikahan dapat melahirkan keturunan secara sah dan terhormat
3.      Dengan pernikahan agama dapat terpelihara
4.      Pernikahan dapat memelihara ketinggian martabat seorang wanita
5.      Pernikahan dapat menjauhkan perzinahan
KESIMPULAN
Dari penjelasan ayat-ayat tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa ayat-ayat tersebut mengandung anjuran menikah dan menikahkan orang-orang yang tidak bersuami dan tidak beristri, termasuk juga budak-budak yang sudah layak dan sudah cukup usia hendaklah dibantu dalam melaksanakan keinginannya. Apabila mereka belum mampu untuk menikah maka bersabarlah dengan  menahan dir dari hawa nafsu.
Dalam ayat tersebut juga mencakup tentan hukum larangan kepada orang-orang yang memiliki hamba sahaya wanita memaksakan untuk melacurkan diri untuk mencari keungtungan dan memperoleh penghasilan dari melacur mereka ini, padahal mereka itu ingin mempertahankan kesuciannya. Akan tetapi, firman Allah ini tidak memberi pengertian bahwa larangan memaksa mereka melacur diri adalah jika mereka tidak menyukainya. Walaupun mereka menyukainya, kita tetap tidak boleh menyuruh mereka untuk melacurkan diri.
PENUTUP
Demikianlah pembahasan yang dapat kami sampaikan tentang tafsir ayat 32-34 yang terdapat dalam surat An-Nur tentang anjran menikah dan larangan melacur. Mudah-mudahan bisa menambah wawasan dan bahan pertimbangan untuk kita semua dalam melangkah ke depan. Dan semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya. Kami juga sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan dari berbagai segi. Oleh karena itu, kami akan selalu membuka kritik dan saran yang bersifat konstruktif untuk kesempurnaan makalah ini. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Mushthofa, Tafsri Al-Maraghi (Edisi Terjemahan), Semarang: Toha Putra, 2000.
Al-Qurtubi, Muhammad Ibn Abi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, t.t. Juz. 12, hal. 238.
Al-Shabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an Al-Karim, (Beirut: Dar Ibn Abbud, 2004)
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur, Juz. 18, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000.
Az-Zamakhsyari, Mahmud bin Umar, Tafsir Al Kasysyaf, t.t.
Bahreisy, H. Salim, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir, jilid. 5, Surabaya: Bina Ilmu, 1990.
K.H.Q. Shaleh dkk, Asbabul Nuzul; Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an, Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2007.
Maktabah Syamila 6888, Tafsir Ayat Al-Ahkam, t.t.


[1] Mahmud bin Umar Az-Zamakhsyari, Tafsir Al Kasysyaf, t.t. Juz III, hal. 188.
[2] K.H.Q. Shaleh dkk, Asbabul Nuzul; Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an, Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2007, hal. 384-385.
[3] Muhammad Ali Al-Shabuni, Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Qur’an Al-Karim, (Beirut: Dar Ibn Abbud, 2004), hal 131. Lihat Juga Maktabah Syamila 6888, Tafsir Ayat Al-Ahkam, t.t.
[4] Ibid.
[5] Lebih jelasnya lihat Muhammad Ibn Abi Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, t.t. Juz. 12, hal. 238.
[6]Muhammad Ali Al-Shabuni, loc.cit.
[7] Muhammad Ibn Abi Al-Qurtubi, op.cit. hal. 239.
[8] Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur, Juz. 18, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000), hal. 2820-2821.
[9] Ibid. hal. 2822.
[10]Ibid. 2823.
[11] Ahmad Mushthofa Al-Maraghi, Tafsri Al-Maraghi (Edisi Terjemahan), (Semarang: Toha Putra, 2000), hal. 191.
Share:

Popular Posts

HALAMAN CATATAN WACANA

Archives

Makalah

Info

Opini