Sebuah Catatan Kecil yang Menaburkan Kecerahan dalam Wacana Kehidupan

Alamat Donwload Referensi Asing

Literatur atau referensi yang berbahasa Inggris masih sedikit sekali kita di jumpai di perpustakaan yang ada di Indonesia. Bukan berarti tidak ada, tetap ada namun terbatas. Kalaupun kita mau membeli itu jelas mahal karena biaya paling banyak termakan di ongkosnya.
Nah bagi kalian yang suka dan ingin mencari referensi berbahasa Inggris jangan khawatir. Anda bisa memanfaatkan alamat-alamat donwload online yang bisa anda manfaatkan untuk mencari referensi yang ingin anda cari.
Bagi yang suka sekali dengan referensi yang berbahasa inggris dan gratis pula, silahkan silah mencarinya di alamat berikut ini. Ketik saja buku atau majalah judul majalah yang ingin anda cari di kolom pencarian. Selamat mencoba dan mencari. Semoga alamat-alamat ini bisa membantu dan memberikan manfaat bagi kalian semua.
2. Bookfi
Share:

Rekosntruksi Paradigma Gerakan Mahasiswa

Sedih, itulah yang dirasakan bila merenungkan keadaan "Pesawat Indonesia" sekarang ini. Sudah setengah abad lebih terbang di udara dengan membawa setumpuk impian. Tapi belum juga sampai ke planet impian yang dituju dan diidam-idamkan para penumpang. Padahal potensi "modal" yang dimiliki sangat besar, bahkan lebih jika hanya untuk terbang menuju ke "planet demokrasi".
          Kegelisahan sudah tak dapat dibendung dengan kesabaran untuk segera sampai ke planet impian. Mungkin karena dirasa pesawat Indonesia sudah terlalu di pesawat, para penumpang pun menyuarakan bermacam-macam komentar, baik melalui "pramugari", maupun langsung kekediaman "pilot pesawat". Mereka menginginkan pilotnya untuk diganti karena dinilai kurang tegas dalam mengambil keputusan. Ada yang bilang salah salah satu anggota birokrasi yang menyulap dirinya menjadi "tikus". Dan juga ada yang merasa "kucing" penangkap tikus tidak mampu berkutik, karena ada dugaan "dihipnotis" dengan mantra suap.
            Mungkin sebagai penumpang yang seharusnya dilayani ada yang percaya dan menerima segala keputusan dari pilot pesawat dan para anggota birokrasinya, dan ada yang melawan dengan segala cara karena mereka merasa amanah yang diyakin kepada birokrasi telah dihianati. Mereka pun sebagai penumpang yang merasa ada kejanggalan tak mau berdiam diri, suara rintihan hati pun bergemuruh di mana-mana sebagai wujud demokrasi.
Seperti inilah kurang lebih gambaran keadaan negeri kita sekarang ini. Apa kita sebagai rakyat, khususnya bagi penyandang gelar akademik membiarkan saja negeri tanah kelahiran kita yang berada di "zona krisis"?. Sungguh tragis bila bersikap merasa tak tahu dan tak acuh dengan keadaan yang semakin memperhatikan. Semestinya, rakyat yang merupakan salah satu unsur pokok berdirinya negara harus ikut andil partisipasi sebagai wujud nasionalime. Tidak ada gunanya keberadaan rakyat dalam negara demokrasi, jika masih jadi "patung hiasan". Yang keberadaannya sebagai pelengkap terbentuknya sebuah negara.
Sebenarnya, semua warga negara demokrasi mempunyai suara dalam pengambilan keputusan, baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan sah yang mewakili kepentingan mereka. Partisipasi tersebut dibangun berdasarkan prinsip demokrasi yakni kebebasan berkumpul dan mengungkapkan pendapat secara konstruktif. Suara rakyat dapat bermuara dalam seluruh aspek pembangunan, termasuk dalam sektor-sektor kehidupan sosial lainnya selain kegiatan politik.
Salah Kaprah
Sudah semestinya mahasiswa penyandang "kalung "sarjana berperan sebagai "advokat" rakyat. Dengan sifat kritis yang melekat dalam diri mereka, sehingga tak heran bila mereka disebut sebagai agent sosial of change yang berkewajiban untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Dan akhirnya, tindakan demonstrasi selalu dilakukan dengan memanggul setumpuk pesan rakyat. Akan tetapi, ketika kepentingan rakyat yang seharusnya diperjuangkan, malah hal tersebut dikesampingkan. Maka perjuangan itu pun pada akhirnya akan jadi  sia-sia.
Tak asing lagi di telinga kita, pemberitaan terhadap demontrasi yang berujung kerusuhan kerap kali tampil di media massa. Bahkan tindakan anarkisme yang ditampilkan antara kubu mahasiswa dengan kubu aparat keamanan kerap diwarnai dengan korban luka-luka. Dan lebih memalukannya lagi, sampai nyawa pun dijadikan "tumbal". Ini terjadi karena bertindak kedua belah kubu hanya mengedepankan ego masing-masing, tanpa mengimbanginya dengan akal dan hati
Suara rakyat yang semestinya diperjuangkan pun pada ujungnya terlantarkan di kolong "harapan". Seakan yang tergambar dari wujud demokrasi adalah demonstrasi "tinju" antara aparat keamanan dan mahasiswa. Karena itu para "wise men of greece" semacam Plato dan Aristoteles lebih menyukai tata-politik monarki ketimbang demokrasi. Menurutnya menyerahkan otoritas kepada rakyat sama saja dengan "merestui" timbulnya anarkisme.
Rekonstruksi Paradigma
Demokrasi memang bukan segala-galanya, sistem ini hanyalah sebagian kecil jalan (tools) tata politik dalam sebuah sistem kekuasaan. Sistem demokrasi berdiri memang bukan tanpa cacat seperti yang dikritikan. Meskipun demikian, sistem inilah yang dinilai terbaik dari berbagai sistem yang ada. Demokrasi baru bisa berjalan "normal" jika akal sehat manusia juga "normal". Jika akal dan jiwa manusia sakit, maka demokrasi pun tak akan pernah berjalan.
Ketika mahasiswa ingin menjadi seorang pejuang agaliter dan keadilan, sudah seharusnya mahasiswa melakukan pembenahan paradigma dalam menyuarakan rintihan rakyat. Akal sehat dan hati jangan pernah dikesampingkan pada saat demonstrasi. Bila ini dipegangi kedua kubu, wujud demokrasi akan menyertai dalam demonstrasi. Dan aparat akan menyambut mahasiswa seperti tamu dari jauh dengan membawa setumpuk keluhan.
Sarana media cetak jangan sampai terlupakan di pikiran para penyandang sarjana. Mereka bisa memanfaatkan rubrik yang disediakan oleh redaktur. Dalam rubrik ini mereka bisa menuangkan segala unek-unek dalam hatinya secara kritik-konstruktif. Selain pesannya dapat tercurahkan tanpa harus membuang keringat, dia juga secara tidak langsung telah melatih pikirannya dalam menanggapi keadaan secara dengan obyektif. Dari sini, diharapkan suara rakyat pun pada akhirnya bisa tersampaikan, tanpa harus ada adu jotos antar mahasiswa dan aparat keamanan. Dengan ini, kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat akan terealisasikan.
Share:

Popular Posts

HALAMAN CATATAN WACANA

Makalah

Info

Opini