Sebuah Catatan Kecil yang Menaburkan Kecerahan dalam Wacana Kehidupan

Fungsi Pengawasan dalam Manajemen

A.   Pendahuluan
Setiap oraganisasi pasti mempunyai sebuah tujuan yang ingin dicapainya, apapun bentuk dari organisasi tersebut. Karena ini merupakan tujuan dari terbentuknya suatu organisasi. Sehingga untuk mencapai tujuan tersebut maka dibentuklah suatu susunan oragnisasi yang dibutuhkan ketika pelaksaannya. Dalam pembentukan susunan ini harus disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan masing-masing individu atas tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Namun, hal itu saja belum cukup dalam menjalankan sebuah oragnisasi. Hal itu juga dibutuhkan fungsi-fungi yang sangat penting di dalam menjalankan organisasi tersebut, setidaknya empat fungsi berikut ini yang sangat penting yaitu; planning, organization, actuating  dan controlling. Dari semua fungsi tersebut harus dijalankan dengan baik karena kesemuannya itu saling melengkapi dan saling ketergantungan. Sehingga apabila ada beberapa fungsi yang tidak dijalankan atau dijalankan dengan maksimal, maka tujuan yang sudah direncanakan akan tidak sesuai dengan dengan apa yang direncanakan.
Tidak dipungkiri controlling atau pengawasan juga menjadi fungsi yang sangat penting dalam menjalankan organisasi. Pengawasan ini tidak hanya dilakukan pada saat pelaksaan saja, tetapi juga mulai dari merencanakan awal tujuan bahkan sebelumnya, hingga sampai pencapaian hasil dan semuanya itu membutuhkan fungsi pengawasan. Dengan begitu, pengawasan ini sangat penting untuk diketahui.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam makalah ini akan membahas tentang controlling atau pengawasa dalam manajemen. Agar mempermudah dalam pemahaman isi makalah ini, maka dalam pembahasan kali ini akan dibagi dengan beberapa sub. Adapun rumusan masalah sebagai berikut: 1) Bagaimana definisi pengawasan itu sendiri dan asas-asas yang melandasinya dalam pelaksanaannya? 2) Bagaimana tahapan dalam proses pengawasan serta karakteristik pengawasan yang efektif itu sendiri?
B.   Pengertian Pengawasan
Fungsi Pengawasan (controlling) adalah fungsi terakhir dari proses manajemen. Fungsi ini menempati posisi yang sangat penting dan sangat menentukan dalam pelaksanaan proses manajemen, karena itu fungsi ini harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Sebelum membahasa lebih lanjut tentang pengawasan itu sendiri, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian dari pengawasan itu sendiri.
Apabila dilihat secara bahasa controlling itu sendiri berasal dari kata control yang berarti: pengawasan, penilikan, pengaturan, penguasaan dan pembatasan, Sedangkan controlling  itu sendiri berarti: yang berkuasa.[1] Pengawsan dapat didefinisikan sebagai proses untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan orgnisasi dan manajemen tercapai. Sehingga pengertian ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara perencanaan dengan pengawasan, bahkan dengan fungsi-fungsi manajerial lainnnya.[2] Sebagaimana dalam gambar berikut:



Pengawasan dalam arti lain adalah kegiatan memantau, menilai dan melaporkan kemajuan terhadap suatu kegiatan. Dalam buku-buku manajemen, pengawasan disamakan dengan pengedalian, akan tetapi menurut Husaini Usman bahwa antara pengawasan dan pengendalian. Perbedaannya adalah pengawasan tidak disertai dengan tindak lanjut tetapi cukup melaporkan saja, sedangkan pengendalian disertai dengan tindak lanjut.[3] Terlepas dari perbedaan arti tersebut, berikut ini adalah definisi yang diberikan oleh para penulis yang memberikan definisi tentang controlling:[4]
1.    Earl P. Strong mendefinisikan Controlling adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu perusahaan agar terlaksana sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana
2.    Harold Koontz memberikan definisi Controlling adalah pengukuran dan perbaikan terhadap pelaksanaan kerja bawahan, agar rencana-rencana yang telah dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan dapat terselenggarakan.
3.    Menurut G.R. Terry Controlling mendefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang harus dicapai yatu standar apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksaan, menilai pelaksanaan dan apabila perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu selaras dengan standar.
Definisi pengawasan yang dikemukakan oleh Robert J. Mockler berikut ini telah memperjelas unsur-unsur esnsial proses pengawasan:
“Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merencang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serat mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan”.[5]
Sehingga dari semua pengertian bahwa pengawasan dilakukan sebelum proses, saat proses dan setelah proses, yakni hingga hasil akhir dikatahui. Denga begitu kehadiran pengawasan akan memberikan makna apabila perannya mencapai tujuan pengawasan, yakni 1) pihak yang diawasi merasa terbantu sehingga dapat mencapai visi dan misi secara efektif dan efisien, 2) menciptakan iklim keterbukaan, kejujuran, partisipasi dan akuntabilitas, 3) menimbulkan iklim saling percaya di dalam dan di luar lingkungan organisasi, 4) meningkatkan akuntabilitas organisasi, 5) meningkatkan kelancaran operasi oragnisasi, dan 6) mendorong terwujudnya pemerintah dan perusahaan yang bersih dan berwibawa.[6] Sehingga fungsi pengawasan ini sangat penting untuk diperhatikan dan diketahui oleh seseorang yang ingin bergelut dalam menjalankan organisasi.
C.   Asas-Asas Pengawasan
Harold Koontz dan Cyril O’Donnel, mengemukakan asas-asas pengawasan, yaitu[7]:
1.    Asas tercapainya tujuan, artinya pengawasan harus ditujukan ke arah tercapainya tujuan yaitu dengan mengadakan perbaikan untuk menghindari penyimpangan-penyimpangan dari rencana.
2.    Asas efisiensi pengawasan, artinya jika dapat menghindari penyimpangan dari rencana, sehingga tidak menimbulkan hal-hal lain yang di luar dugaan.
3.    Asas tanggung jawab pengawasan, artinya pengawasan hanya dapat dilaksanakan jika manajer bertanggung jawab terhadap pelaksanaan rencana.
4.    Asas pengawasan terhadap masa depan, artinya pengawasan yang efektif harus ditujukan ke arah pencegahan penyimpangan yang akan terjadi, baik pada waktu sekarang maupun masa depan.
5.    Asas pengedalian langsung, artinya pengawasan itu dilakukan oleh manajer, atas dasar bahwa manusia itu sering berbuat salah, ini untuk mengusahakan sedapat mungkin para petugas memiliki kualitas baik.
6.    Asas refleksi rencana, artinya pengawasan harus disusun dengan baik, sehingga dapat mencerminkan karakter dan susunan rencana.
7.    Asas penyusunan denngan organisasi, artinya pengawasan harus dilakukan sesuai dengan besarnya wewenang manajer, sehingga mencerminkan struktur organisasi.
8.    Asas pengawasan individual, artinya pengawasan sesuai dengan kebutuhan manajer. Yaitu tergantung pada kebutuhan akan informasi setiap manajer, sebab ruang lingkup informasi yang dibutuhkan itu berbeda satu sama lain, tergantung pada tingkat dan tugas manajer.
9.    Asas standar, artinya pengawasan harus memerlukan standar yang tepat sebagai tolok ukur pelaksanaan dan tujuan yang akan dicapai.
10. Asa pengawasan strategis, artinya memerlukan adanya perhatian yang ditujukan terhadap faktor-faktor yang strategis dalam perusahaan.
11. Asas kekecualian, artinya pengawasan juga memerlukan adanya perhatian dalam keadaan tertentu terhadap faktor kekecualian, yaitu ketika situasi berubah atau tidak sama.
12. Asas pengawasan fleksibel, artinya pengawasan harus luwes untuk menghindari kegagalan pelaksanaan perencanaan.
13. Asas peninjauan kembali, artinya sistem pengawasan harus ditinaju beberapa kali, agar setiap sistem yang digunakan berguna untuk mencapai tujuan.
14. Asas tindakan, artinya pengawasan dapat dilakukan, apabila ada ukuran-ukuran untuk mengoreksi penyimpangan-penyimpangan rencana, organisasi, staffing dan directing.
D.   Tipe-Tipe Pengawasan
Ada tiga tipe dasar pengawasan[8]:
1.    Pengawasan pendahuluan (feedforward control) atau sering disebut steering controls, dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah dari standar atau tujuan dan memungkin koreksi dibuat sebelum suatu tahapan kegiatan tertentu diselesaikan. Jadi pendekatan pengawasan ini mendeteksi masalah-masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan sebelum suatu masalah terjadi.
2.    Pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan (concurrent control), atau sering disebut screening control. Pengawasan ini dilakukn selama suatu kegiatan berlangsung. Tipe ini merupakan proses di mana aspek tertentu dari suatu prosedur atau syarat harus disetujui dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa dilanjutkan atau menjadi semacam  peralatan “double check” yang lebih menjamin ketepatan pelaksanaan.
3.    Pengawasan umpan balik (feedback control) dikenal juga dengan istilah past-action controls, yaitu mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Sehinga pengawasan ini bersifat historis karena pengukuran dilakukan setelah kegiatan terjadi.


Dalam proses pelaksanaan pengawasan ada beberapa cara yang dapat dilakukan di dalam pelaksanaannya, yaitu dibedakan menjadi tiga[9];
1.    Pengawasan langsung, yaitu pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh seorang manajer.
2.    Pengawasan tidak langsung, yaitu pengawasan jarak jauh artinya dengan melalui laporan yang diberikan oleh bawahan. Laporan ini dapat berupa laporan tertulis atau lisan tentang pelaksanaan pekerjaan dan hasil-hasil yang telah dicapai.
3.    Pengawasan berdasarkan kekecualian, pengawasan yang dikhususkan untuk kesalahan-kesalahan yang luar biasa dari hasil atau standar yang diharapkan. Pengawasan semacam ini dilakukan dengan cara mengkombinasi langsung dan tidak langsung oleh mamajer.
Selain itu juga, dikenal juga beberapa macam pengawasan[10], yaitu;
1.    Internal control (pengawasan intern), adalah pengawasan yang dilakukan oleh seorang atasan kepada bawahannya, meliputi hal-hal yang cukup luas baik pelaksanaan tugas, kedisplinan karyawan dan lain-lainnya.
2.    External control (pengawasan ekternal), adalah pengawasan yang dilakukan oleh pihak luar. Pengawasan ekstern ini dapat dilakukan secara formal dan informal, misalnya pemeriksaan pembukuan oleh kantor akuntan dan penilaiaan yang dilakukan oleh masyarakat.
3.    Formal control (pengawasan resmi), adalah pengawasan yang dilakukan oleh instansi atau pejabat resmi dan dapat dilakukan secara intern maupun ekstern. Misalnya pemeriksaan yang dilakukan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) terhadap BUMN, Dewan Komisariat terhadap PT yang bersangkutan dan sebagainya
4.    Informal control (pengawasan konsumen), adalah penilaian yang dilakukan oleh masyarakat atau konsumen baik langsung maupun tidak langsung, misalnya melalui media massa cetak atau elektronik dan sebagainya.
E.   Obyek Pengawasan
Obyek pengawasan atau bidang pengawasan itu tergantung dari kebutuhan pimpinan dan terutama ditentukan oleh model perusahaan atau kegiatan yang ada. Ini disebabkan karena dalam setiap oragnisasi satu dengan organisasi lainnya berbeda. Namun demikian ada bidang-bidang tertentu yang pada umumnya penting, dan pada umumnya bidang ini ada pada semua model perusahaan atau kegiatan. Bidang-bidang tersebut dikelompokkan sebagai berikut:[11]
1.    Pengawasan terhadap manajemen personalia, meliputi;
a)    Struktur Organisasi
b)    Pengawasa terhadap kebijakan
c)    Pengawasan terhadap prosedur-prosedur
d)    Pengawasa terhadap fungsi staff
e)    Pengawasa terhadap pegawai-pegawai
2.    Pengawasan terhadap produk atau hasil, pengawasan di bidang ini antara lain;
a)    Bidang riset atau pengembangan
b)    Pengawasan terhadap komposisi hasil
c)    Pengawasan terhadap penjualan
d)    Pengawasan terhadap penetapan harga produksi
e)    Pengawasan terhapat persediaan atau inventaris
f)     Pengawasan atas mutu produksi
3.    Pengawasa dalam bidang keuangan, dalam bidang ini dapat dilakukan antara lain;
a)    Ongkos-ongkos atau biaya produksi
b)    Pengawasan atas biaya biaya pabrik atau perlengkapan
c)    Pengawasan terhadap kebutuhan uang tunai
4.    Pengawasan atas hasil pekerjaan secara keseluruhan
Diakui bahwa aneka ragam tujuan perusahaan,namun ada satu hal yang pasti; kontinuitas suatu perusahaan tergantung pada kemampuannya untuk membuat laba. Karenanya pimpinan harus mengawasi bagaimana keadaan laba yang riel dibandingkan dengan laba yang diharapkan. Apabila tidak sesuai dengan yang diharapkan untuk kemudian diambil tindakan perbaikan.
5.    Pengawasan atas mutu manajemen
Setiap peristiwa yang ada pada perusahaan dikendalikan dan dipengaruhi oleh orang yang menjalankan perintah itu. Harapan untuk memperbaiki hasil yang kurang atau tidak memuaskan terletak pada tindakan-tindakan perbaikan yang diambil oleh mereka yang bertanggung jawab. Dalam pelaksanaannya pengawasan mutu manajemen dapat dilakukan dua cara;
a)    Pengawasan tidak langsung, yaitu bertitik tolak pada hasil akhir atau peristiwa yang tidak diharapkan kemudian mencari sebab-sebabnya dengan maksud supaya yang bersangkutan memperbaikinya agar sesuai dengan rencana.
b)    Pengawasan langsung, sifatnya positif sebab berusaha mencegah jangan sampai timbul penyimpangan. Prosesnya selalu dianalisis dan diawasi supaya sesuai dengan rencana.


F.    Tahap-Tahap dalam Proses Pengawasan
Proses pengawasan biasanya terdiri paling sedikit lima tahap (langkah)[12], seperti yang ditunjukkan gambar berikut:

Tahap-tahap ini diperinsi sebagai berikut:
1.    Penetapan Standar Pelaksanaan
Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai patokan untuk menilai hasil-hasil. Tiga bentuk standar yang umum adalah:
a.    Standar-standar phisik, bisa meliputi kuantitas barang atau jasa, jumlah langganan, atau kualitas produk dan sebagainya.
b.    Standar-standar moneter, yang ditunjukkan dalam rupiah, mencakup biaya tenaga kerja, biaya penjualan, laba kotor, pendapatan penjualan dan sejenisnya.
c.    Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas waktu suatu pekerjaan harus diselesaikan.
2.    Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Penetapan standar akan sia-sia apabila tidak disertai dengan berbagai cara untuk mengukur pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu, tahap kedua dalam pengawasan ini menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara tepat. Beberapa pertanyaan penting berikut ini dapat digunakan: berapa kali pelaksanaan seharusnya dilakukan – setiap jam, harian, mingguan, bulanan? Dalam bentuk apa pengukuran akan dilakukan – laporan tertulis, inspeksi visual, melalui telephone? Siapa yang akan terlibat –manajer, staf departemen? Dan sebagainya.
3.    Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Tindakan ini dilakukan sebagai proses yang berulang-ulang dan terus-menerus. Ada beberapa cara untuk melakukan pengukuran pelaksanaan, yaitu 1) pengamatan (observasi), 2) laporan-laporan, baik lisan dan tertulis, 3) metoda-metoda otomatis, dan 4) inspeksi, pengujian (test) atau denga pengambilan sampel. 
4.    Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisis Penyimpangan
Tahapan ini merupakan tahap kritis dari proses pengawasan. Walaupun tahapan ini paling mudah dilakukan, tetapi kompleksitas dapat terjadi pada saat menginterpretasikan adanya penyimpangan. Penyimpangan ini harsu dianalisis untuk menentukan mengapa standatr tidak tercapai.
5.    Pengambilan Tindakan Koreksi Bila Diperlukan
Apabila hasil analisis perlu tindakan koreksi, maka tindakan ini harus dilaksanakan. Tindakan koraksi dapat diambil dalam berbagai bagai bentuk;
a.    Mengubah standar mula-mula (mungkin terlalu tinggi atau terlalu rendah)
b.    Mengubah pengukuran pelaksanaan (inspeksi terlalu sering frekuensinya atau kurang atau bahkan mengganti sistem pengukuran itu sendiri)
c.    Mengubah cara dalam menganalisa dan menginterpretasi penyimpangan-penyimpangan.
G.   Karakteristik Pengawasan yang Efektif
Untuk menjadi efektif dalam proses pengawasan, sistem ini harus memenuhi kriteria tertentu. Kriteria-kriteria utama adalah bahwa sistema seharusnya 1) mengawasi kegiatan-kegiatan yang benar, 2) tepat waktu, 3) biaya yang efektif, 4) tepat-akurat, dan 5) dapat diterima orang yang bersangkutan. Semakin dipenuhinya kriteria-kriteria tersebut maka semakin efektif sistem pengawasan. Karakteristik- karakteristik dapat diperinci sebagai berikut:[13]
1.     Akurat, informasi tentang pelaksanaan kegiatan harus akurat. Data yang tidak akurat akan dapat menyebabkan organisasi mengambil tindakan koreksi yang keliru.
2.    Tepat-waktu, informasi haus dikumpulkan, disampaikan dan dievaluasi secepatnya bila kegiatan perbaikan harus dilakukan segera.
3.    Obyektif dan menyeluruh, informasi harus mudah dipahami dan bersifat obyektif serta lengkap.
4.    Terpusat pada titik-titik pengawasan strategis, sistem pengawasan harus memusatkan perhatian pada bidang-bidang di mana penyimpangan-penyimpangan dari standar paling sering terjadi atau yang akan mengakibatkan kerusakan paling fatal.
5.    Realistik secara ekonomis.
6.    Realistik secara organisasional, sistem pengawasan harus cocok dengan kenyataan organisasi.
7.    Terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi, hal ini karena 1) setiap tahap dari proses pekerjaan dapat mempengaruhi sukses atau kegagalan keseluruha operasi, dan 2) informasi harus samapi pada seluruh personalia yang memerlukannya.
8.    Fleksibel, sebagai tanggapan atau reaksi terhadap ancaman ataupun kesempatan dai lingkungan.
9.    Bersifat sebagai petunjuk dan operasional, sistem pengawasan efektif harus menunjukkan, baik deteksi atau deviasi dari standar, tindakan koreksi apa yang seharsunya diambil.
10. Diterima para anggota organisasi, sistem pengawasan harus mampu mengarahkan pelaksanaan kerja para anggota organisasi dengan mendorong perasaan otonomi, tangung jawab dan berprestasi.


H.   Penutup
Fungsi controlling atau pengawasan merupakan salah satu elemn yang sangat penting untuk diketahui dalam menjalankan sebuah organisasi. Karena pengawasan itu sendiri adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merencang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serat mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.
 Dalam menjalankan proses pengawasan tersebut terdapat beberapa tahanpan yang harus dilaksanakan karena hal ini akan menentukan hasil dari pengawasan tersebut. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan setidak ada lima tahap, yaitu; 1) penetapan standar penlaksanaan, pengawasan, 2) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan pengawasan, 3) pengukuran pelaksanaan kegiatan pengawasan, 4) pembandingan pelaksanaan dengan standar dan analisis penyimpangan dan 5) pengambilan tindakan koreksi apabila diperlukan. Kemudian setelah dilakukan analisis dan koreksi, maka dilakukanlah kegiatan pengambilan tindakan untuk pengambilan langkah atas hasil analisis dan koreksi.
Dalam menjalankan pengawasan semaksimal mungkin untuk dilakukan dengan efektif dan hasilnya bisa maksimal. Hal itu bisa diketahui dengan beberapa kriteria-kriteria utama dalam proses pengawasan. Dimana sistem pengawasan itu seharusnya 1) mengawasi kegiatan-kegiatan yang benar, 2) tepat waktu, 3) biaya yang efektif, 4) tepat-akurat, dan 5) dapat diterima orang yang bersangkutan. Semakin dipenuhinya kriteria-kriteria tersebut maka semakin efektif sistem pengawasan.
Apabila ini diterapkan dalam proses pengawasan untuk menjalankan suatu organisasi, maka organisasi tersebut akan dapat mencapai tujuan yang diharapkan ketika merencakan awal terbentuknya organisasi tersebut. Dengan catatan, dalam menjalankan pengawasan ini benar-benar dijalankan dengan konsisten dan perorganisasian yang baik.

Bahan Bacaan:
Echols , John M. dan Hassan Shadily, Kamus Inggri- Indonesia, Cet. 25, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Handoko, T. Hani, Manajemen,, Edisi Kedua, Cet-18, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2003.
Hasibuan, Malayu, S.P., Manajemen; Dasar, Pengertian dan Masalah, Edisi Revisi, cet-8, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
Siagian, Management; Suatu Pengantar, Bandung: Penerbit Alumni, 1977.
Usman, Husaini, Manajemen: Teori Praktek & Riset Pendidikan, Edisi Kedua, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.




[1] Lihat John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggri- Indonesia,(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003), cet. 25, hlm. 145.
[2] T. Hani Handoko, Manajemen,, Edisi Kedua, (Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta, 2003), cet-18, hlm. 360.
[3] Husaini Usman, Manajemen: Teori Praktek & Riset Pendidikan, Edisi Kedua, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), cet. 1, hlm. 470.
[4] Malayu, S.P. Hasibuan, Manajemen; Dasar, Pengertian dan Masalah, Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), cet-8, hlm. 241.
[5] Hani Handoko, op.cit., hlm. 360-361.
[6] Husaini Usman, op.cit., hlm. 471.
[7] Selengkapnya baca Malayu, S.P. Hasibuan, op.cit., hlm. 243-244.
[8] T. Hani Handoko, op.cit., hlm. 361-362
[9] Selengkapnya baca Malayu, S.P. Hasibuan, op.cit. hlm. 245-246.
[10] Ibid., hlm. 248.
[11] Selengkapnya baca Siagian, Management; Suatu Pengantar, (Bandung: Penerbit Alumni, 1977), hlm. 122-134.
[12] Hani Handoko, op.cit., hlm. 363-365.
[13] Ibi., hlm. 373-374.
Share:

Detektor Pada Teleskop Optik

A.   Pendahuluan
Dalam ilmu astronomi, bahasa universal adalah cahaya atau lebih umumnya gelombang elektromagnetik (EM), termasuk sinar-X, sinar ultra violet, sinar infra merah, dan gelombang radio. Semua benda langit bercerita tentang dirinya dengan pancaran gelombang EM. Ilmu pengetahuan dalam bidang Fisika dan matematika menjadi juru bahasanya untuk mengurai secara mendetail etntang hal tersebut.
Sebagai contoh mengidentifikasi objek yang sangat panas, seperti pada peristiwa tumbukan materi yang sangat kuat akibat tarikan Lubang Hitam (Black Hole), bercerita tentang dirinya dengan pancaran sinar-X. Dengan fisika dapat ditafsirkan bahwa objek itu sangat panas dan apa yang mungkin menyebabkannya. Objek-objek yang sangat dingin, seperti “embrio” bintang (protostar), bercerita banyak kepada astronom dengan pancaran sinar infra merah dan gelombang radio. Galaksi-galaksi yang sedang berlari menjauh memberikan pesan lewat spektrum cahayanya yang bergeser ke arah merah (red shift).
Maka untuk dapat mendengarkan dan memahami cerita alam semesta yang “sayup-sayup” itu digunakan teleskop. Teleskop berfungsi untuk menangkap isyarat-isyarat yang sangat redup. Agar cerita itu dapat difahami makna fisisnya, teleskop itu perlu dilengkapi detektor yang berfungsi merekam informasi dari objek alam semesta itu. Wujudnya bisa berupa skema pengamatan visual, foto, isyarat elektronik, atau data digital yang bisa diolah komputer.
Dalam proses pengolahan data tersebut diperlukan alat yang dapat membantu untuk mendapatkan data yang dibutuhkan yaitu sebauh alat detektor. Sehingga detektor di sini merupakan salah satu komponen teleskop yang sangat penting yang ada di dalamnya. Dari sekian banyak macam-macam detektor yang ada, dalam teleskop menggunakan detektor cahaya, karena obyek yang ditangkap oleh detektor ini adalah sebuah fenomena alam yang keberadaannya sangat jauh. Dengan bantuan  teleskop yang dilengkap detektor yang dapat menangkap gelombang elektromagnetik, maka hal itu dapat teramati dalam sebuah komputer.
B.   Detektor Teleskop Optik
Teleskop atau teropong adalah perangkat yang berfungsi mengumpulkan sebanyak mungkin gelombang elektromagnetik dari objek yang sangat jauh. Secara umum kita kenal ada dua jenis teleskop: optik dan radio. Teleskop optik merupakan susunan cermin dan/atau lensa untuk memfokuskan cahaya. Semakin besar diameternya, semakin banyak cahaya yang mampu dikumpulkan sehingga makin mampu mendeteksi objek-objek langit yang sangat redup. Teleskop radio merupakan antena parabola yang menangkap gelombang radio yang dipancarkan objek-objek langit. Semakin besar ukurannya, semakin tinggi resolusinya hingga mampu mendeteksi detil objek-objek dingin di alam semesta.
Alam semesta ini sangat gelap. Semakin jauh menembus kedalaman langit, semakin redup objeknya. Oleh karenanya teleskop saja belum memadai untuk mendeteksi objek-objek redup itu. Perlu detektor yang mampu memperkuat citra dan mampu meningkatkan kontras antara objek dan langit di sekitarnya. Kombinasi antara teleskop dan detektornya menentukan keandalan perangkat kerja astronom dalam mengurai kegelapan alam semesta.
Saat ini astronom berusaha mendapatkan perangkat kerja dengan teleskop yang sekecil mungkin agar praktis pengoperasiannya, namun mampu mendeteksi detil objek yang diteliti. Ini menuntut peningkatan kualitas detektor dan metode pengolahan citranya.
Astronom sebagai pengguna teknologi memanfaatkan teknologi untuk mengenali langit lebih dalam. Misalkan, sebuah teleskop kecil berkemampuan penguatan 40.000 kali (bila benar ada), itu akan meningkatkan ambang batas magnitudo sebesar 11,5, yang berarti meningkatkan ambang batas mata manusia dari 6,5 magnitudo menjadi 18 magnitudo (ukuran kecerlangan relatif dalam astronomi, makin besar harganya berarti makin redup objek yang diamati). Ini akan sangat menarik minat astronom untuk melakukan pengamatan objek langit redup, termasuk sky deep survey (mendeteksi objek-objek langit sampai yang sangat redup).
Pembahasan detektor tidak lepas dengan istilah radiasi. Radiasi merupakan suatu cara perambatan energi dari sumber energi ke lingkungannya tanpa membutuhkan medium atau bahan penghantar tertentu. Radiasi nuklir memiliki dua sifat yang khas :
v  tidak dapat dirasakan secara langsung dan
v  dapat menembus berbagai jenis bahan.
Oleh karena itu untuk menentukan ada atau tidak adanya radiasi nuklir diperlukan suatu alat, yaitu pengukur radiasi, yang digunakan utuk mengukur kuantitas, energi, atau dosis radiasi.
Panca indera manusia secara langsung tidak dapat digunakan untuk menangkap atau melihat ada tidaknya zarah radiasi nuklir, karena manusia memang tidak mempunyai sensor biologis untuk zarah radiasi nuklir. Walaupun demikian, dengan bantuan peralatan instrumentasi nuklir maka manusia dapat mendeteksi dan mengukur radiasi nuklir. Jadi manusia sepenuhnya tergantung pada peralatan instrumentasi nuklir untuk mengetahui dan memanfaatkan zarah radiasi nuklir tersebut.
Detektor merupakan suatu bahan yang peka terhadap radiasi, yang bila dikenai radiasi akan menghasilkan tanggapan mengikuti mekanisme yang telah dibahas sebelumnya. Perlu diperhatikan bahwa suatu bahan yang sensitif terhadap suatu jenis radiasi belum tentu sensitif terhadap jenis radiasi yang lain. Sebagai contoh, detektor radiasi gamma belum tentu dapat mendeteksi radiasi neutron.
Mata adalah detektor alamiah yang sampai kini pun tetap digunakan dalam pengamatan astronomi. Hasil pengamatannya bisa juga mempunyai nilai tinggi dalam penelitian astronomi. Untuk mendapatkan data yang bisa diperbandingkan secara internasional, hasil pengamatan mata yang bisa berbeda-beda tergantung kemampuan teleskop dan kepekaan mata pengamat, ada faktor koreksi berdasarkan suatu acuan yang disepakati. Selain data numerik jumlah objek yang diteliti, pengamatan dengan mata menghasilkan sketsa.


Sebagaimana dalam sketsa di atas bahwa dalam mata terdapat sebuah detektor cahaya yaitu retina. Dimana retina ini menubah bayangan cahaya menjadi impuls listrik saraf yang dikirim ke otak. Penyerapan suatu foton cahaya oleh sebuah fotoreseptor menimbulkan suatu reaksi fotokimia di fotoreseptor yang melalui suatu cara akan memicu timbulnya sinyal listrik ke otak, yang disebut suatu potensial aksi. Foton harus di atas energy minimum untuk dapat menimbulkan reaksi.
Sejak ditemukannya perangkat fotografi, hampir semua teleskop dilengkapi dengan kamera fotografi. Dengan menggantikan lensa okuler (untuk pengamatan dengan mata) dengan kamera fotografi, teleskop bisa digunakan untuk memotret objek-objek langit bila teleskop dilengkapi dengan penyambung yang cocok untuk pemasangan kamera tersebut. Beragam objek dapat direkam untuk analisis fisis atau struktur (seperti dalam pengamatan awan antarbintang) atau sekedar mengumpulkan bukti pengamatan (seperti pengamatan hilal, bulan sabit pertama).
Dalam pemakaiannya untuk mendeteksi objek redup kamera fotografi perlu waktu pencahayaan (exposure time) yang lama. Ini dimaksudkan agar semakin banyak foton cahaya yang terkumpul pada plat atau film fotografi. Namun, ada efek kejenuhan pada batas tertentu sehingga semakin lama pencahayaanya kontras pada citra objek terang makin hilang. Walaupun demikian, karena kemampuannya merekam objek langit dengan medan luas menyebabkan detektor fotografi dipertahankan dalam pengamatan astronomi. Teknik hipersensitisasi dikembangkan agar mampu mendeteksi objek yang lebih redup. Teknik pemotretan dengan panduan komputer juga digunakan untuk menghasilkan citra medan langit yang lebih luas dalam satu plat potret.
Penemuan teknologi yang memanfaatkan efek fotolistrik (efek pelepasan elektron bila terkena foton cahaya) dimanfaatkan astronom untuk mendapatkan detektor elektronik yang mampu menguatkan isyarat cahaya dari objek redup. Detektor pengganda cahaya (photomultiplier) sudah lama digunakan untuk mendeteksi objek-objek sangat redup, terutama untuk pengukuran fotometri (kuat cahaya) bintang. Detektor penguat citra elektronik (electronic image intensifier) yang bisa dipantau pada layar TV juga digunakan astronom, terutama untuk pemandu teleskop dalam pemotretan objek redup secara otomatik. Rendahnya akurasi detektor penguat citra dalam pengukuran kecerlangan objek menyebabkan detektor ini tidak banyak digunakan dalam analisis fisis citra objek langit.

C.   Karakteristik Detektor Teleskop Optik
Adapun yang digunakan adalah detektor cahaya dimana alat ini adalah sebuah alat yang menerima cahaya kemudian merubah variasi-variasi daya optik menjadi variasi arus listrik. Atau dengan kata lain, alat yang digunakan untuk mengubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. Dimana prinsip kerja alat ini adalah mengubah energi dari foton menjadi elektron. Sebagimana gambar di bawah ini:



Dari berbagai macam photodetektor yang berbasis semikonduktor, maka yang paling baik digunakan pada optik adalah photodiode. Photodiode digunakan karena karakteristiknya yaitu ukurannya kecil, sensitifitasnya tinggi dan kecepatan respon terhadap waktu yang tinggi.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal penggunaan photodiode sebagai transducer, secara khusus untuk aplikasi sistem komunikasi optik, maka detektor cahaya harus memiliki fitur-fitur sebagai berikut ini:
1.    Peranti detektor cahaya harus sangat sensitif. Arus listrik yang dihasilkan harus sebesar mungkin dalam merespon daya optik masuk. Karena detektor cahaya ini selektif terhadap panjang gelombang (respon terbatasi oleh rentang panjang gelombang), maka sensitifitas ini harus bernilai besar pada daerha panjang gelombang operasi.
2.    Waktu respon terhadap sinyal optik masukan harus cepat. Detektor harus mampu menghasilkan arus listrik meski pulsa optik masukan berlangsung dalam waktu yang cepat. Hal ini akan memungkin untuk menerima data dengan laju bit tinggi.
3.    Untuk sistem penerimaan data analog, detektor cahaya harus memiliki hubungan masukan-keluaran yang linier. Hal ini diperlukan untuk menghindari distorsi sinyal keluaran.
4.    Derau dalam (internal noise) yang dibangkitkan oleh peranti harus sekecil mungkin agar peranti dapat mendetektsi sinyal optik masukan sekecil mungkin.
5.    Selain dipertimbangkan juga karakteristik penting lainnya, misalnya keandalan, stabilitas, kekebalan terhadap pengaruh alam.
Adapun ukuran gelombang elektronomagnetik, sebagaimana dalam gmabr berikut ini:




D.   Pemasangan CCD Pada Teleskop
Perkembangan teknologi semikonduktor melahirkan detektor astronomi yang kini dianggap yang paling membantu astronom dalam mengurai kegelapan alam semesta. Detektor itu adalah CCD, Charge-Coupled Device. Dengan kemera CCD astronom dapat mendeteksi objek sangat redup dengan ukuran teleskop yang lebih kecil. Kelebihan utama kamera CCD adalah kemampuannya merekam setiap foton (partikel cahaya) yang mengenainya dengan rentang panjang gelombang mulai dari sinar-X, sinar-UV, cahaya tampak, sampai sinar inframerah. Artinya, dengan CCD akan dapat diamati objek-objek yang sangat jauh, yang sangat redup, yang sangat panas, atau yang sangat dingin. Lagi pula dengan kamera CCD astronom bisa mengolah citranya secara lebih cepat, akurat, dan dalam format yang beragam dengan bantuan perangkat lunak komputer.
CCD, Charge-Coupled Device, bisa diterjemahkan sebagai alat perangkai muatan listrik. CCD sendiri sebenarnya terdiri dari deretan bahan semikonduktor berbentuk bujur sangkar sangat kecil yang sangat peka terhadap cahaya yang biasa disebut sebagai piksel (pixel, picture element, elemen gambar). Karena sangat halusnya ukuran piksel tersebut, sebuah CCD yang mempunyai ratusan ribu piksel berukuran hanya sebesar kuku ibu jari tangan dan permukaannya tampak sangat rata.
Cahaya yang jatuh pada piksel diubah menjadi muatan listrik kemudian dirangkai secara berurutan dan dialirkan ke perangkat komputer untuk disimpan dan diolah lebih lanjut. Secara mudahnya CCD dapat dibayangkan seperti susunan genteng di atap rumah. Bila hujan turun dan jatuh pada genteng rumah (ibarat cahaya jatuh pada CCD) aliran air hujan (ibarat muatan listrik) pada masing-masing deretan genteng itu kemudian dialirkan ke talang dan selanjutnya dialirkan melalui pipa saluran air di bawah.



Berbeda dengan air hujan yang jatuh di atas genteng itu, muatan listrik pada CCD nantinya bisa ditentukan asal pikselnya dengan perangkat lunak komputer. Dengan demikian dapat ditentukan jumlah foton yang jatuh pada masing-masing piksel itu. Maka bila disusun kembali dilayar komputer dengan menggunakan warna atau derajat kehitaman berdasarkan jumlah foton yang jatuh pada tiap piksel, gambar objek yang diamati akan tampak. Kontras citra dapat ditingkatkan dengan menentukan gradasi warna atau tingkat kehitaman yang lebih tajam. Noktah yang diketahui bukan berasal dari objek yang diamati (misalnya dari sinar kosmik) dapat dihilangkan dari gambar sehingga citra yang diperoleh akan lebih bersih.
Banyak keunggulan CCD dibandingkan detektor astronomi lainnya. Resolusinya sangat tinggi sehingga bisa mengungkap detil dari objek yang diamati. Efisiensi kuantumnya juga tinggi yang berarti radiasi apa pun yang jatuh pada CCD akan terdeteksi. Respon spektrumnya lebar sehingga bisa digunakan untuk pengamatan sinar-X sampai sinar inframerah, bukan hanya cahaya tampak. Noise-nya rendah sehingga citra objek akan tampak lebih jelas. Rentang dinamiknya lebar, objek yang terang dan yang redup bisa sama-sama ditampilkan secara jelas. Ini berbeda dengan fotografi yang terpaksa harus mengorbankan salah satunya, yang terang atau yang redup. Kemampuan pengukuran kuat cahaya objek sangat akurat sehingga suatu objek yang dua kali lebih terang daripada objek alinnya akan secara tepat ditampilkan seperti itu.
Karena keunggulannya itu, kamera CCD kini luas digunakan dalam pengamatan astronomi. Pesawat antariksa yang mengamati komet Halley pada pertengahan tahun 1980-an juga dilengkapi denga kamera CCD. Teleskop Hubble, teleskop yang ditempatkan di luar angkasa yang saat ini menguak rahasia alam semesta secara lebih detil, menggunakan kamera CCD sebagai detektor utamanya. Saat ini hampir semua observatorium sudah memiliki teleskop yang dilengkapi dengan kamera CCD. Astronom amatir pun kini banyak yang memilikinya.



Dengan perkembangan teknologi detektor dan kontrol teleskop yang berbasis komputer, astronom kini cukup duduk di depan komputer di ruang kontrol. Tidak perlu lagi selalu berada di dekat teleskopnya.
E.   Penutup
Demikianlah pembahasan yang dapat kami sampaikan terntang detektor pada teleskop optik. Mudah-mudahan bisa menambah wawasan dan bahan pertimbangan untuk kita semua dalam melangkah ke depan. Dan semoga bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca umumnya. Kami juga sangat menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak sekali kekurangan dan kesalahan dari berbagai segi. Oleh karena itu, kami akan selalu membuka kritik dan saran yang bersifat konstruktif untuk kesempurnaan makalah ini. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
Share:

Download Gratis Kitab al-Adzkar karya Imam An-Nawawi Versi PDF

Kitab al-Adzkar al-Muntakhabatu min Kalaami Sayyidi al-Abraar karangan Imam Nawawi atau yang di kalangan pesantren lebih dikenal kitab al-Adzkar yang isinya membicarakan pasal-pasal dzikir, doa, wirid, dan sebagainya. Baik yang hanya ringkasan, kutipan, maupun pensarian dari kitab-kitab klasik.

Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi,adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i. Ia lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama beliau, an-Nawawi ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits.
Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini beliau belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian beliau menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, dibawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.
Semasa hidupnya beliau selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian beliau adalah kain kasar, sementara serban beliau berwarna hitam dan berukuran kecil.
Bagi yang berminat untuk memiliki kitab ini versi PDF berikut ini link untuk mendownloadnya:

Share:

Popular Posts

HALAMAN CATATAN WACANA

Makalah

Info

Opini