Sebuah Catatan Kecil yang Menaburkan Kecerahan dalam Wacana Kehidupan

Catatan tentang Ramadlan

Dalam hal tertentu, manusia akan merasa semangat melakukan suatu hal yang baru. Terlebih apabila sesuatu yang baru itu merupakan hal yang pertama kali atau sesuatu yang awal yang ia akan lakukan. Salah satu contohnya, seperti halnya dalam bulan ramadlan kita melakukan puasa, tarawih dan tadarusan. Seorang muslim pada awal bulan ramadlan ia tentu akan merasa semangat untuk menjalankan rutinitas bulan puasa tersebut. Bahkan ia menjalankannya pada waktu yang tepat dan penuh antusias.
Namun setelah berjalan beberapa hari, semakin hari semakin terasa berat untuk dijalankan. Perasaan ini akan selalu muncul sebagai dalam benak muslim yg selalu menggoda orang muslim. Sekali ia lengah dan terlena oleh godaan tersebut yang mengganggu kontinuitas dalam rutinitas ini maka ia akan semakin terninakbobokan olehnya. Untuk menghadapi godaan ini, sifat semangat untuk menjalankan ibadah-ibadah dan sifat kontinuitas ini harus terus ditingkatkan setiap muslim.
Semakin akhir bulan ramadlan godaan itu akan semakin kuat, sehingga mungkin ini alasan kenapa lailatur qadar itu di letakkan di akhir-akhir bulan Ramadlan. Bagi yang terlena tentunya ia bisa jadi akan melewatkan lailatul qadar ini. Lailatur qadar yang menurut beberapa ulama diletakkan di hari gajil pada 10 hari terakhir bulan Ramadlan. Ketika kita tidak meningkatkan sifat kontinuitas dalam ibadah maka semakin kecil kesempatannya untuk mendapatkan lailatul qadar.

Maka dari itu, marilah semua umat muslim untuk selalu meningkatkan semangat beribadah kita. Karena kita sekarang sudah menginjak hari ke-22 bulan Ramadlan. Dan semoga kita dapat mendapatkan lailatul qadar, lailatul qadri khairun min alfi syahr. Amin. 
Share:

Catatan tentang Koalisi Partai

Koalisi Merah Putih mulai kendor, satu per satu mulai menunjukkan alasan-alasan untuk membuat koalisi baru. Atau bahkan merapat ke barisan koalisi yang memenangkan duel capres dan cawapres 9 Juli kemarin. Setidaknya ada 3 partai yang merasakan "galau". Ketiga partai tersebut adalah Golkar, PPP dan Demokrat. Ketiganya gundah kalau koalisi merah putihnya itu sebuah permanen. Hal itu wajar dalam dunia politik, tidak ada teman atau musuh sejati, yang ada adalah kepentingan sejati.
Adakalanya kemarin teman, tapi sekarang musuh, adakalanya juga kemarin musuh tapi sekarang menjadi teman. Namun tetap kepentingan menjadi tujuan utama. Dengan menempatkan kepentingan sebagai tujuan, maka tidak mengherankan apabila setiap partai memasang dua kakinya di dua tempat yg berbeda.
Ketika salah satu kakinya terjatuh dalam pentas duel, setidaknya masih ada satu kaki yang menyelamatkannya dari kekalahan pertandingan pada 9 Juli. Pada pilpres 9 Juli, kemarin, merupakan babak final yang mengharuskan kepada pasangan yang diusung untuk berjuang mati-matian dan mengorbankan segala yang ada. Namun pengorbanan yang memang benar-benar berkorban dalam pertandingan itu hanya diperlihatkan pasangan yang maju.
Sedangkan pasangan pendukung -partai yang merapat ke pasangan yang maju ke pilpres- hanya setengah hati dalam memberikan dukungan. Kondisi demikian semakin jelas dengan rumor pecahnya dan kegalauan yang dialami oleh partai pendukung dalam koalisi Merah Putih. Apakah terbelahnya suara koalisi karena pasangan yang mereka usung kalah dalam duel 9 Juli atau karena sebab yang lain? Apakah terbelahnya koalisi yang ada di kubu Merah Putih juga akan berlaku di pasangan yang dinilai "menang" oleh quick qount?

Apakah partai-partai yang terbelah suara akan dicerca banyak pihak karena ketidaksetiaan mereka dalam berkoalisi? Apakah kekalahan dalam duel 9 Juli hanya akan dirasakan oleh pasangan dalam pilpres saja? Mari kita perhatikan bersama kelanjutan pesta politik Indonesia. Dan jangan lupa kita berdoa semoga pasangan menang yang akan ditetapkan pada 22 Juli 2014 bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
Share:

Catatan Perbedaan Awal Bulan

Sebulan yang lalu, Muhammadiyah sudah mendeklarasikan bahwa awal bulan Ramadlan jatuh pada tanggal 28 Juni 2014. Ormas ini beralasan karena tinggi hilal sudah di atas ufuk. Sedangkan Pemerintah dan Ormas Nahdlatu Ulama belum menentukan awal bulan Ramadlan. Model penentuan awal bulan qamariyah ini disebut dengan model hisab. Sehingga mereka tidak perlu melakukan rukyat al-hilal di lapangan.
Berdasarkan data perhitungan awal bulan qamariyah, tinggi hilal akhir Sya'ban kurang dari 1 derajat, maka pihak pemerintah akan mengadakan sidang isbat sebagai agenda rutinan. Dalam sidang inlah pemerintah akan menentukan awal bulan Ramadlan. Walaupun demikian, sebetulnya pemerintah sudah memiliki kriteria dalam menentukan awal bulan qamariyah, yakni apabila tinggi hilal 2 derajat. Apabila tinggi hilal lebih dari 2 derajat secara perhitungan, namun dalam pelaksanaan rukyat tidak terlihat hilalnya, maka besok tetap sudah awal bulan dan harus puasa. Begitu juga sebaliknya apabila hilalnya kurang dari 2 derajat dan ada yang melihat hilal, maka kesaksian tersebut dianggap batal dan besok masih masuk akhir bulan. Model penentuan awal bulan qamariyah ini disebut dengan Imkan al-rukyat.
Berbeda dengan warga Nahdlatul Ulama yang menjadi acuan dalam menentukan awal bulan tetap rukyat al-hilal dengan panduan hisab. Sehingga bagi warga NU pelaksanaan rukyat al-hilal harus dilakukan. Melihat hal itu sebetulanya, pemerintah tidak perlu mengadakan rukyat al-hilal, sebab model penentuannya sudah jelas, yakni hisab menjadi landasan utamanya. Sehingga dengan adanya model penentuan awal bulan qamariyah ala pemerintah sudah bisa diketahui jauh-jauh hari.
Terlepas dari perbedaan penentuan awal bulan qamariyah ini, setidaknya peningkatan toleransi atau perbedaan pendapat menjadi hal yang penting. Sebab ini merupakan hasil tafsir dari teks-teks yang ada. Perbedaan pendapat seperti ini sudah wajar di kalangan fuqaha pada masa dahulu. Sebetulnya, yang paling esensial bukanlah perbedaan awal bulan qamariyah, namun pelaksanaan ibadahnya yang harus dihayati dan diresapi dan dijalankan dengan penuh keikhlasan sebagai umat yang beragama.


* Selamat menunaikan ibadah Puasa.

Share:

Catatan Pilpres

Pada tanggal 9 Juli 2014, bangsa Indonesia akan merayakan pelaksanaan pesta demokrasi. Perayaan tersebut dibingkai dalam bentuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Calon yang terpilih merupakan penentu arah perkembangan bangsa Indonesia pada lima tahun ke depan. Berbeda pada pemilihan sebelumnya, pada tahun ini, calon presiden dan calon wakil presiden mengkrucut menjadi dua kubu. Yakni kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan kubu Jokowi-Jusuf Kalla.
Bagi kedua kubu ini tidak mau kalah untuk menunjukkan bahwa dirinya lah yang pantas untuk menjadi pemimpin pengganti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Berbagai polesan "baik" dan "buruk" disajikan tanpa ada keraguan. Seolah pertarungan yang selama ini identik dalam ring, tapi pada pemilihan presiden dan wakil presiden bertarung dalam dunia media (maya). Memanfaatkan media cetak maupun media televisi, masing-masing kubu terus memperlihatkan kepantasan, bahkan menidakpantaskan pasangan lawan. Bentuk sajian tidak hanya dalam bentuk berita, tetapi juga dalam bentuk talk show, dialog, wawancara dengan tokoh, bahkan menampilkan video-video yang dapat meningkatkan popularitas.
Tak pelak, untuk menghadirkan sosok yang "pantas" menjadi pemimpin bangsa Indonesia merupakan pekerjaan yang mewah. Mereka harus merogoh kapital yang jumlahnya tidak sedikit. Kondisi yang demikian, bagi rakyat Indonesia mau tidak mau harus ikut andil dalam perebutan kursi Presiden. Memberikan hak suara dalam pemilihan merupakan manifesto dari demokrasi. Dari dua kudu tersebut, pilihlah yang terbaik. Walaupun kedua kudu ini tidak layak semua menjadi Presiden, setidaknya pilihlah yang paling layak dari yang tidak layak.
Sebagai pertimbangan, sejarah dan bukti prestasi yang telah ditampakkan oleh masing-masing calon menjadi efekti untuk menjadi pertimbangan dalam memilih. Renungkanlah sejenak, jangan sampai pemilu ini sebuah hal yang remeh. Meremehkan pemilu berarti meremehkan pula hidup. Memberikan suara hanya karena uang yang cukup dibuat untuk makan 2 hari, sama saja membiarkan bangsa Indonesia dalam kemunduran. Memberikan suara hanya karena mengikuti orang lain sama halnya menitipkan bangsa Indonesia kepada orang yang tidak jelas. Berikanlah suaramu karena anda tahu akan calon Presiden dan calon Wakil Presidenmu.


*Salam 5 Menit Untuk 5 Tahun 
Share:

23 Juni 2014

daririau.com
Dewan Pewakilan Rakyat (DPR) diposisikan sebagai wakil rakyat dalam pemerintahan. Salah satu tugas mereka adalah membuat undang-undang. Regulasi inilah yang digunakan sebagai patokan sekaligus sebagai pembatasan segala sesuatu. Namun perlu diingat, bahwa DPR yang duduk manis di Senayan, Jakarta, semuanya mereka diusung oleh partai-partai yang ikut andil dalam persaingan pemilihan umum (Pemilu). Karena adanya partai yang mengusung mereka, maka pemilik partai pun ada keinginan ketika caleg yang partai usung itu jadi dewan.

Makanya tidak heran apabila produk hukum yang mereka perjuangkan ada kepentingan tertentu. Apa akan terus beginilah keadaan Indonesia, sedangkan para pemilih itu sebenarnya tidak mengetahui asal usul calon yang mereka pilih. Bahkan, saking ketidaktahuannya, mereka terpaksa memberikan suaranya demi uang yang tidak seberapa. Kalau sistem pemilihan pemimpin ini kan terus dipertahankan, maka kekuasaan akan terus dipegang oleh orang-orang yang memiliki uang.
Share:

Memanusiakan Teknologi

Riuh rendah euphoria budaya yang ditawarkan dunia baru ini. warna-warni citraan yang disuguhkannya, gemerlap cahaya kesenangan dan kegairahan yang dijanjikannya, semua itu menimbulkan rasa keterpesonaan bagi yang memperhatikaan. Keterpesoaan tersebut terkadang dapat menghipnotis dan menjadikan keterlenaan seseorang.
Tak hanya itu, dunia ini juga yang membawa kita menjelajahi berjuta pengembaraan, berjuta kegairahan dan berjuta keterpesonaan. Sehingga dunia baru ini, menurut Yasraf tidak ubahnya seperti sebuah hologram raksasa, yang menyuguhkan jutaan warna dan jutaan citra yang tampak nyata. Namun, ketika kita berupaya menggapainya, yang kita dapati tak lebih dari sebuah kehampaan. Kemudian orang-orang menyebut fenomena ini tak lain sebagai globalisasi media.
Kendatipun demikian, semua penjelajahan, tontonan dan keterpesonaan itu ternyata tidak pernah memuaskan manusia. Sebenarnya jika kita perhatikan dengan teliti, apa yang kita saksikan ini merupakan sebuah geografis realitas yang penuh retakan dan sebuah arsitektur yang kontradiksi.
Disengaja atau tidak, pengalaman manusia yang dialami sekarang ini telah terdistorsi oleh representasi oleh budaya popular yang sedang berkembang. Representasi realitas ini melalui media elektronik ataupun cetak yang dengan sendirinya menghegemoni segala sikap dan tindakan yang kita inginkan.
Kita pun merasa bergairah dan menyerahkan sepenuhnya kepercayaan kita kepada sang perantara (media massa) untuk mendefinisikan realitas dunia yang kita jalani. Fenomena perkembangan teknologi media tersebut tentu memungkinkan terjadinya peluang yang sangat terbuka bagi penciptaa rekayasa citra untuk menciptakan realitas yang semu.
Apakah perkembangan teknologi ini salah? Tentu saja tidak ada yang salah dalam hal ini. Sebab, terlalu naif rasanya kalau kita mau menghakimi semata. Memang benar, dalam dunia yang mengajak kita untuk berkhayal ini seperti menciptakan sajian yang serba cepat. Bahkan, ini menjadi saluran kebebasan hasrat di dalam ruang yang membuka segala bentuk peluang.
Hanya saja, perkembangan ini layaknya kita sikapi dengan pemanfaatan yang maksimal. Ini ibarat pisau bermata dua. Satu sisi, pisau dapat menjadi senata yang mematikan ketika pisau ini dipegang oleh seorang penjahat. Di sisi lain, pisau ini dapat dipakai untuk meramu bahan masakan yang enak dan lezat untuk disantap. Sekarang pertanyaannya, siapa yang akan memegang kendali?. Tapi perlu diingat, kembalilah ke sifat awal, yaitu perkembangan teknologi hanya sebagai produk ciptaan manusia, tidak lebih. Bukan sebaliknya, manusia sebagai "produk" teknologi.
Terlebih bagi mahasiswa yang disibukkan dengan tugas-tugas kampus. Mereka pun harus mengerjakan itu semua. Tak khayal apabila mahasiswa lebih memilih jalan pintas dalam menyelesaikan tugas mereka. Keterlenaan inilah yang dikhawatirkan di zaman globalisasi teknologi. Maka dari itu paidai-pandailah mahasiswa dalam memanfaatkan produk mereka, tanpa harus termanfaatkan oleh produk sendiri.
Share:

Alamat Donwload Kitab Kuning Lengkap

Kitab kuning, dalam pendidikan agama islam, merujuk kepada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama islam (diraasah al-islamiyyah) yang diajarkan pada pondok-pondok pesantren baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kitab Kuning ini mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq/tasawuf, tata bahasa arab (ilmu nahwu dan ilmu sharf), hadits, tafsir, ulumul qur'an, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu’amalah).
Kitab Kuning juga dikenal juga dengan kitab gundul, nama ini ditunjukan untuk kitab kuning karena memang tidak memiliki harakat (fathah, kasrah, dhammah, sukun), tidak seperti kitab al-Quran pada umumnya. Oleh sebab itu, untuk bisa membaca kitab kuning berikut arti harfiah kalimat per kalimat agar bisa dipahami secara menyeluruh, dibutuhkan waktu belajar yang relatif lama.
Model kitab kuning demikian tidak lepas dari sejarah pada zaman dahulu. Kebanyakan naskah para ulama pasca Khulafaa al-Rasyidin ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab tanpa harakat, tidak seperti Al-Qur'an pada umumnya. Dikarenakan tujuan pemberian harakat pada Al-Quran lebih kepada bantuan bagi orang-orang non arab dan penyeragaman. Sedangkan bagi orang yang menguasai tata bahasa bahasa Arab maka dapat dengan mudah membaca kalimat tanpa harakat tersebut. Inilah yang kemudian di Indonesia dikenal sebagai Kitab Gundul untuk membedakannya dengan kitab bertulisan dengan harakat.
Sedangkan mengenai penyebutan istilah sebagai Kitab Kuning, dikarenakan memang kitab-kitab tersebut kertasnya berwarna kuning, hal ini disebabkan warna kuning dianggap lebih nyaman dan mudah dibaca dalam keadaan yang redup. Ketika penerangan masih terbatas di masa lampau, utamanya di desa-desa, para santri terbiasa belajar di malam hari dengan pencahayaan seadanya. Meski penerangan kini telah mudah, kitab-kitab ini sebagian tetap diproduksi menggunakan kertas warna kuning mengikuti tradisi, walaupun ada juga yang telah dicetak pada kertas berwarna putih (HVS).
Sebab lainnya, adalah karena umur kertas yang telah kuno yang turut membuat kertas semakin lama akan menguning dan menjadi lebih gelap secara alami, juga disebutkan ketika dahulu lilin/lampu belum bercahaya putih dan masih kuning maka kertas berwarna putih atau kuning sama saja akan tetap terlihat kuning, sehingga ketika kertas kuning dahulu lebih ekonomis maka penggunaan kertas kuning dapat meringankan ongkos produksi secara masal. Kini di era modern Kitab-kitab tersebut telah dialih berkaskan menjadi fail buku elektronik, misalnya chm atau pdf. Ada juga software komputer dalam penggunaan kitab-kitab ini yaitu Maktabah Syamila (Shameela) yang juga mulai populer digunakan dikalangan para santri pondok pesantren modern.
Clifford Geertz seorang ahli antropologi dari Amerika Serikat dalam bukunya yang terkenal berjudul "Abangan, Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa" (judul aslinya The Religion of Java) memuat sekelumit ceria tentang kitab kuning. Ada pula buku karangan peneliti Belanda Martin van Bruinessen yang berjudul "Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat", yang membahas sejarah kitab kuning dan pendidikan Islam tradisional di Indonesia.
Bagi kalian yang ingin memiliki file kitab kuning yang berbentuk word atau pdf, silahkan donwload sendiri filenya. Adapun alamat donwload kitab kuning, silahkan klik sendiri, setidaknya ada 5 (lima) alamat yang menyediakan kitab kuning yang lengkap.
1.      Kitab Klasik
2.      Syameela
3.      PustakaAswaja
4.      Almeshkat
5.      Waqfeya

Demikian alamat donwloag kitab kuning, semoga ini bermanfaat untuk yang membutuhkan, sekian terima kasih. 
Share:

Peran Pers Mahasiswa untuk Bangsa

Sebenarnya, ketika kita berbicara tentang pers mahasiswa (persma), tidak lain kita sedang berbicara tentang gerakan mahasiswa. Pers mahasiswa dan gerakan mahasiswa adalah satu kesatuan, perumpamaannya seperti dua mata uang yang tak dapat dipisahkan. Tentu ini terasa sangat tepat, mengingat peran persma yang bergerak melalui jalur penguatan wacana dan pembentukan opini publik, dimana kegaiatan tersebut bagian dari dimensi gerakan mahasiswa.
Eksistensi gerakan persma pun telah terbukti dalam catatan sejarah, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Bukti ini dapat dilihat dari Indonesia Merdeka yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda yang telah menempatkan gerakan media mahasiswa sebagai agen pemasok informasi faktual dan propaganda gerakan sosial di Indonesia.
Di masa yang berbeda, pasca diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia, Ikatan Wartawan Mahasiswa (IWM), maupun Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI) yang kemudian melebur menjadi Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) pada tahun 1958. Kini berafiliasi dalam wadah Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) sejak dideklarasikannya di Malang, 15 Oktober 1992 telah memperlihatkan eksistensinya sebagai bagian dari perjuangan mahasiswa Indonesia.
Gerakan persma tentu tak lepas dari semangat juang pemuda-pemuda bangsa Indonesia. Keinginannya untuk merubah keadaan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik tercermin di setiap zaman. Bahkan agenda gerakan pun juga ikut menyesuaikan pergolakan sosial yang sedang nyaring terjadi pada waktu itu. Seperti di era sebelum kemerdekaan, persma memboyong kemerdekaan sebagai misi pertama dan paling utama. Sedangkan di era pasca kemerdekaan, persma memposisikan diri sebagai penyokong mulut rakyat dan pengawas pemerintah. Serta mengemban misi demokrasi tanpa anarki di tanah pertiwi.
Bentuk gerakan yang dilakukan persma sangatlah berbeda dengan gerakan mahasiswa umumnya. Pada umumnya gerakan mahasiswa itu identik dengan aksi turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan. Gerakan ini sangatlah lekat dengan kekerasan dan anarki. Akibatnya, gerakan ini tak lain hanya sebuah gerakan yang kosong dari solusi, bahkan dapat memperkeruh keadaan.
Tentunya ini berbeda dengan persma, gerakan persma lebih berorientasi pada pergulatan wacana serta pembentukkan opini publik. Opini tersebut didasarkan pada kondisi sosial yang sedang gencar-gencarnya di masyarakat. Di sini persma tampil dan hadir sebagai media informasi, penyadaran masyarakat dan propaganda bagi gerakan mahasiswa lainnya.
Nilai Positif Perma
Pers mahasiswa sebagai salah satu bagian dari gerakan mahasiswa mempunyai nilai tersendiri. Karena gerakan ini sesuai dengan sifat kritis yang dimiliki mahasiswa. Setidaknya ada dua kekuatan besar yang ada dibalik pers mahasiswa. Pertama, Persma berpijak pada dimensi pers yang merupakan kekuatan keempat dalam pencaturan politik negara demokrasi, setelah Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif. Dari sisi kajian pers, statusnya sebagai mahasiswa akan mampu memberikan suatu kebebasan tersendiri. Sehingga independensi menjadi garansi tersendiri dari pers mahasiswa. Serta Persma tidak berorientasi profit. Dengan begitu, kebebasan untuk melakukan kritik sosial semakin terbuka.
Kedua, persma bertumpu pada identitas mahasiswa sebagai kalangan terdidik yang mempunyai pemikiran kritis dan kepekaan sosial yang sangat tinggi. Dengan penggabungan kekuatan tersebut, maka persma menjadi kekuatan yang sangat besar. Dimana kekuatan tersebut merupakan penggabungkan dua kekuatan besar yakni pers dengan ketajaman ananlisisnya dan mahasiswa dengan kemurnian gerakannya.
Gerakan inilah yang diharapkan, selain membawa perubahan yang lebih baik (agent social of changes), gerakan ini juga mampu menjaga nilai-nilai kebaikan yang sudah tertanam dalam masyarakat (guardian of value). Karena jangan sampai, perubahan yang diboyong mahasiswa akan mengesampingkan nilai-nilai positif dalam tatanan masyarakat yang telah dikecap sejak dulu.

Di sinilah tugas utama dan paling utama bagi para mahasiswa yang dianggap sebagai intelektual muda, untuk menumbuhkembangkan kembali harapan-harapan masyarakat tentang perbaikan bangsa, tanpa menomorduakan nilai-nilai positif. Bukankah begitu!
Share:

Indahnya Ciptaan Tuhan


Keindahan malam bertaburan bintang
Sayupan angin diterpa desiran ombak malam
Indahnya ketenangan dan terbang
Tak mampu mengalahkan kesejukan terdalam

Keanggunan yang engkau tampakkan
Kesederhanaan yang dibalut kemulian
Menambah keanggunan

Kelompak sipit  dihiasi sinaran cermin
Senyum kecil manis
Menghipnotis tiap insan
Sambil tertawa sinis

Tindak tandukmu
Membuat iri bagi yang benar-benar memaknai kehidupan
Sungguh indah cintaan-Mu

Semoga insan menjadikan engkau percontohan
Dalam mewujudkan kehidupan yang bermoral dan berkepribadian



Kantor eLSA
19 Januari 2014



Share:

Merenungkan Masjid sebagai Pusat Peradaban

Islam lahir tidak dalam ruang dan waktu yang kosong, namun ia lahir dalam suatu peradaan yang berkambang. Jauh sebelum Islam datang, sudah banyak agama yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat Arab pra Islam. Agama-agama yang berkembang pada saat itu antara lain al-Watsaniyah (paganisme), Yahudi, Majusi, Hanifiyah dan Shabi’ah. Sebagai agama yang datang belakangan, Islam secara tidak langsung terpengaruhi oleh peradaban yang berkembang dalam masyarakat Arab yang mayoritas menyembah berhala.
Rumah ibadah umat Islam yang dinamakan masjid merupakan salah satu bukti akulturasi dari kebudayaan pra Islam. Seperti istilah baitullah yang berarti rumah Allah. Istilah ini digunakan masyarakat pra Islam untuk menyebut rumah ibadah. Hingga sekarang istilah ini digunakan oleh umat Islam untuk menyebut Ka’bah. Bahkan istilah Ka’bah itu sendiri bagi masyarakat pra Islam digunakan untuk menyebut rumah ibadah yang bentuk kubus. Di mana pada masa itu, para pemuka penyembah banyak yang memiliknya. Namun istilah Ka’bah ini maknanya dipersempit menjadi bangunan kubus yang ada di Mekkah.
Selain itu, demi menjaga rumah ibadah agar tetap terawat, maka masyarakat pra Islam memiliki orang-orang khusus yang mengabdikan dirinya untuk merawat berhala (sadanah). Para penjaga yang bertugas merawat masjid juga ada di Islam, mereka disebut sebagai ta’mir masjid.
Pada saat umat muslim hijrah ke Madinah, pertama yang dilakukan oleh Nabi adalah membangun masjid. Nabi memfungsikan tidak hanya untuk shalat semata. Namun lebih dari itu, fungsi sosial pun menjadi perhatian Nabi, bahkan masjid seperti bukan tempat yang sakral. Sehingga keberadaan masjid pada masa Rasulullah menjadi tempat yang sentral dalam umat Islam.
Praktik yang demikianlah tidak terlihat pada masyarakat pra Islam, sebab mereka mensakralkan rumah ibadah mereka. Jawad Ali menjelaskan keyakinan yang dimiliki masyarakat pra Islam ini lahir karena bagi mereka bahwa Tuhan yang mereka sembah bersemayam di dalam rumah ibadah tersebut dan diyakini sebagai rumah Tuhan (baitullah). Hal ini senada dengan definisi tentang tempat yang disakralkan menurut Joseph Chelhod. Dia mengartikan tempat yang disucikan adalah tanah kawasan yang lepas dari alam profan, secara umum manusia dilarang memasukinya karena ruh yang samar telah menampakkan diri di dalamnya dan menjadikannya sebagai tempat tinggal.
Diakui atau tidak, fenomena banguan masjid pada masa Rasulullah sangat berbeda dengan zaman sekarang. Model arsitektur masjid pada zaman sekarang kemegahannya tampak jelas di tengah-tengah kota. Bentuk fisik yang menawan semakin hari semakin megah mencerminkan “kemajuan” umat Islam.
Bentuk bangunan masjid pun sangat beragam, bahkan ada yang menyerupai rumah ibadah agama lain. Menjadi konsekuensi bagi agama Islam ketika bertemu dengan kebudayaan untuk beradaptasi. Lebih-lebih status agama Islam sebagai pendatang. Maka tak heran apabila penyesuaian terhadap kebudayaan tersebut menjadi hal yang wajar. Salah satu adaptasi agama Islam yang tampak jelas adalah bentuk bangunan masjid.
Kalaupun demikian kondisinya, maka menjadi ambigu ketika pemerintah Indonesia melalui Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri mengeluarkan regulasi No. 8 tahun 2006 tentang Pendirian Rumah Ibadah. Di mana dalam pasal 1 ayat 3 disebutkan bahwa “Rumah ibadah adalah bangunan yang memiliki ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadat bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadat keluarga”.
Di balik kemegahan dan keanggunan masjid pada zaman sekarang seakan menjadi seperti “topeng belaka” yang menutup keprihatinan. Pasalnya, umat Islam setengah hati memfungsikan masjid. Alunan adzan dari sudut masjid yang selalu berkumandang setiap menjelang pelaksanaan ibadah shalat belum menyentuh hati para jamaah. Sehingga tidak mustahil masjid yang megah menjadi seperti “kuburan cina” yang sepi dari jamaah. Lebih dari itu, kehadiran jama’ah yang ke masjid hanya untuk menghilangkan kewajibannya sebagai orang Islam. Tanpa dilengkapi dengan interaksi sosial yang baik untuk menciptakan kesejahteraan bersama sebagai wujud tanggung jawab sosial.
Dengan kondisi yang demikian, umat Islam pada zaman sekarang seolah masjid dijadikan sesuatu yang sakral. Apakah memang demikian eksistensi dari masjid yang dibangun sebagai tempat untuk melakukan ibadah bersama? Apakah perlu masjid disakralkan di mana sebagai tempat untuk menyembah Allah yang tidak terwujud? Lebih luas lagi apakah bangunan rumah ibadah agama tertentu memiliki bentuk permanen? Padahal apapun bentuknya dari rumah ibadah itu yang paling esensial adalah fungsinya.
Share:

Independensi Media di Semarang Diragukan

Semarang – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang merasa independensi media massa yang terbit di Semarang semakin mengkhawatirkan. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh AJI  terhadap media massa yang terbit di Semarang. Sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu Suara Merdeka, Wawasan, Jawa Pos Radar Semarang, Koran Sindo edisi Jateng dan Tribun Jateng.
Dari pemberitakan yang disajikan oleh media massa tersebut, topik berita antara hukum dan politik lebih banyak politik, hukum 29% dan politik 71 %. Sedangkan jenis beritanya lebih banyak hard news 96%, soft newsnya 4 % dan editorial 0%.
Adapun dalam memeperoleh berita, kebanyakan wartawan mendapatkan berita dengan cara wawancara dengan prosentase sebanyak 84,3%, observasi hanya 2,1 % sedangkan penggabungan keduanya 13,4 %. Dari bahan ini berkesimpulan bahwa media massa yang ada di Semarang pantas apabila menerima himbauan moral agar pers di Semarang menjalankan independensinya.
“Kalau berbicara tentang media, posisi media massa ini adalah jurnalistik suci, namun ada juga untuk industri kapitalisme, sehingga ini tidak menutup kemungkinan terjadi intervensi di ranah pemberitaan”, kata Rofiuddin, Sekretari AJI Kota Semarang pada acara Seminar Partisipasi Publik Mendorong Independensi Media Massa Lokal, di Hotek Pandanaran (20/1).
Ia menambahkan bahwa jurnalis dalam memberitakan harus paham dengan apa yang diberikan karena intervensi ini tidak hanya lahir dari jurnalis, namun juga dari narasumber dan bahkan pihak redaktur pun dapat melakukan hal tersebut.
Senada dengan Rofiudin, menurut Arif Zulkifli, Pimpinan Redaksi Majalah Tempo masalah independensi media massa ini menjadi isu yang besar di dunia jurnalis. Menurutnya, persoalan ini sebenarnya persoalan personal, bukan kelompok dalam redaksi media massa.
“Independensi media ini persoalan yang besar dalam jurnalistik, namun ini persoalan personal bukan kelompok yang berakibat pada tercorengnya media massa”, jelas Zulkifli yang dihadirkan untuk menjadi pembicara pada seminar tersebut.

Untuk meminimalisir intervensi yang ada di dapur redaksi, menurut Zulkifli  sikap keterbukaan di dalam media massa tersebut harus selalu ditananamkan. Serta kesadaran masing-masing yang terlibat dalam keredaksian, untuk menunjukkan bahwa media massa tidak dintervensi pihak tertentu. Selain itu, Arif juga menambahkan bahwa masyarakat umum selaku konsumen  media massa harus kritis terhadap berita-berita yang dipublikasikan media. (Wahib/cw-online)
Share:

Temu Kangen Komunitas Pondok Damai

Semarang - Banyak hal yang dapat dilakukan oleh sebuah komunitas untuk merekatkan anggotanya. Mulai hal yang kecil sekadar kumpul di kucingan, hingga mengadakan acara reuni. Meskipun kegiatan tersebut seperti hal yang tidak penting, namun kesan yang ditimbulkan, kegiatan ini dapat menjadikan komunitas tersebut memiliki rasa keluarga antar satu dengan yang lain. Rasa kekeluargaan inilah yang ingin dirasakan oleh komunitas Pondok Damai.
Tawa riang dan senang, itu lah yang dirasakan oleh kemunitas Pondok Damai ketika mengadakan Temu Kangen di Cafe Friends Semarang (19/1). Wadah yang disebut dengan Pondok Damai ini merupakan sebuah komunitas lintas agama yang anggotanya berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, terlebih di Semarang dan Salatiga.
Acara yang didesain sederhana ini salah media untuk merekatkan di lingkungan komunitas Pondok Damai. Selain itu juga, untuk mengobati rasa rindu dan sekadar tegus sapa. “Kami sering kumpul seperti ini, ya walaupun saya jauh-jauh dari Salatiga ke sini hanya tegur sama tapi terasa senang bisa bertemu dengan teman-teman Pondok Damai”, kata Yohanes, salah satu anggota Pondok Damai dari Salatiga.
Kegiatan yang dapat dibilang santai ini tidak seperti acara-acara temu kangen yang lain. Acara yang bisa dikatakan non formal ini hanya berkumpul untuk makan dan minum bareng. “Kumpul makan bareng dan minum bareng, ya sambil nyloteh, beginilah biar kami beda agama namun kita bisa berdampingan dan ketawa bersama”, tutur Devi Oktaviani, anggota Pondok Damai dari Agama Budha.
“Kalau sedang kumpul yang paling saya senangi itu ketika kita berdiskusi tentang perbedaan agama kita, kita saling tanya, ya tentunya sedikit demi sedikit saya jadi tahu tentang agama selain agama saya”, jelasnya dengan nada senang.

Selain kegiatan seperti ini, Titus anggota Pondok Damai yang sekaligus pemiliki Cafe Friends ini menambahkan bahwa Pondok Damai juga sering melakukan kunjungan ke tempat-tempat ibadah. Pada bulan Ramadhan, komunitas yang mewadahi lintas iman ini juga melakukan kegiatan pembagian nasi bungkus kepada orang-orang jalanan. Meskipun pembagian nasi bungkus ini hanya di sekitar Semarang, namun  ini salah satu bentuk kerjasama kita untuk membantu sesama tanpa memandang agama. (Wahib/cw-online)
Share:

Popular Posts

HALAMAN CATATAN WACANA

Makalah

Info

Opini