Sebuah Catatan Kecil yang Menaburkan Kecerahan dalam Wacana Kehidupan

Tersedia Buku: Islam Postliberal

TERSEDIA BUKU!!!

Judul              : ISLAM POSTLIBERAL
Penulis          : SUMANTO AL QURTUBY
Halaman        : 364 Halaman
Jenis Kertas  : HVS
Harga             : 49.000

Cara pembelian: NAMA, NO. HP, ALAMAT LENGKAP, JUDUL BUKU, JUMLAH EKSEMPLAR, kirim ke Nomor: 085 727 170 205 (SMS atau WA).

Bagi yang berminat silahkan hubungi langsung.


NB: Boleh bertanya-tanya dahulu sebelum membeli buku yang sesuai dengan yang anda cari.



Share:

Tersedia Buku: Nahdlatul Ulama (Dari Politik Kekuasaan sampai Pemikiran Keagamaan)

TERSEDIA BUKU!!!

Judul              : NAHDLATUL ULAMA (DARI POLITIK KEKUASAAN SAMPAI PEMIKIRAN KEAGAMAAN
Penulis          : SUMANTO AL QURTUBY
Halaman        : 377 Halaman
Jenis Kertas  : Bookpaper
Harga             : 54.000

Cara pembelian: NAMA, NO. HP, ALAMAT LENGKAP, JUDUL BUKU, JUMLAH EKSEMPLAR, kirim ke Nomor: 085 727 170 205 (SMS atau WA).

Bagi yang berminat silahkan hubungi langsung.

NB: Boleh bertanya-tanya dahulu sebelum membeli buku yang sesuai dengan yang anda cari.


Share:

Tebarkan Kedamaian Demi Masa Depan Nusantara

Sebelum teknologi berkembang, seperti pada masa sekarang ini, setiap tingkah laku manusia akan terlihat, apakah ia menebarkan kedamaian, atau justru menebarkan pertikaian. Pasalnya, setiap yang disampaikan dan dilakukan akan didengar dan dilihat bahwa orang tersebut pelakunya.

Beda zaman beda keadaan, perkembangan teknologi secara tidak langsung memberikan pengaruh keadaan sosial. Keadaan sosial manusia tidak bisa lepas dari dunia maya dari pada dunia nyata. Bahkan waktunya dihabiskan untuk membaca dan melihat segala macam di dunia maya melalui hp. Seakan apa yang ia baca dan ia lihat di dunia maya adalah sebuah informasi yang dapat dipegangi dan diikuti.
Padahal, semua orang bisa membuat informasi di dunia mata, baik melalui video, gambar maupun tulisan. Saking bebasnya "peraturan" di dunia maya, seseorang dapat menebarkan kebencian dan adu domba sekalipun dengan mudah. Ironinya, informasi yang tak layak dikonsumsi masyakat ini dapat disebarluarkan kemana dan untuk kalangan siapa saja. Bahkan justru lebih banyak yang membaca dan merespon di dunia maya, dari pada di dunia nyata.
Itulah kondisi dunia maya kita sekarang ini. Ibaratnya dunia maya ini sebuah wahana kontestasi, antara yang baik dan buruk kumpul menjadi satu. Tidak ada sekat di antara keduanya, hanya hati yang tergugahlah yang dapat memilah dan memilih dari dua pilihan ini.
Itulah keadaan "dunia baru", kita tidak bisa lari dari dunia ini. Kita pun dituntut untuk berperan untuk menciptakan tatanan yang positif di "dunia baru".
Bagi hatinya yang tergugah dan sadar, pilihanya ada jadilah pembaca yang kritis atau jadilah penebar kedamaian di dunia maya, padat pula menjadi kedua-duanya. Pembaca atau konsumen dunia maya harus memahami dan kritis terhadap berita atau foto yang ada di dunia maya. Jangan sampai kita terbawa oleh arus yang dibawa oleh dunia maya. Sekali lagi sadarlah, bahwa dunia maya ini "diciptakan" oleh manusia. Oleh karenanya, manfaatkan dunia maya ini dan janga  sampai kita yang dimanfaatkan oleh dunia maya. Maka dari itu, harus kritis dan jadilah pembaca yang bijak nan arif.
Sedangkan penebar kedamaian di dunia maya adalah orang yang aktif di dunia maya. Manfaatkan hal itu untuk menebarkan kebajikan dan kebaikan. Sebab lawan-lawan kita di dunia maya adalah orang orang yang "tidak terlihat" yang gemar menebarkan kebencian dan pertikaian. Apabila lawan-lawan ini dibiarkan, maka dunia maya hanya diisi keburukan dan kebencian.

Cintaillah dunia nyata dengan mencintai dunia maya. Rawatlah dunia nyata melalui dunia maya. Manfaatkan dunia maya untuk kedamaian dunia. Tebarkanlah kedamaian dan kebajikan untuk kesejahteraan bersama. Mulailah dari bangsa kita, bangsa Indonesia. Jagalah nusantara, masa depan nusantara ada di tangan kita. Kita bangsa Indonesia.
Share:

Mengevaluasi Produk Pendiddikan di Indonesia

Pendidikan merupakan sesuatu yang urgen bagi setiap manusia. Melalui pendidikan ini manusia dapat mengetahui sesuatu yang belum ia ketahui. Agar pendidikan ini sesuai dengan yang diharapkan, maka dibentuklah lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai wadah dan sekaligus lembaga yang dipercaya untuk dapat menciptakan manusia yang terdidik atau berpengetahuan.

Dalam upaya memberi pengetahuan bagi terdidik, maka dibuatlah kurikulum, strategi pembelajaran dan jenjang pendidikan. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, maka semakin luas pengetahuannya.
Orang yang berada pada posisi ini, yakni pada posisi yang memiliki pengetahuan luas diharapkan dapat menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan dapat menjadi contoh bagi yang lain. Sehingga akan tercipta pendidikan yang menyebarluas.
Ironinya, pelaku korupsi di Indonesia didominasi oleh mereka yang mengenyam penddikan tinggi. Sebagaimana yang diungkap oleh Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode Muhammad Syarif. Menurut Syarif, fakta pada sekarang ini bahwa mereka yang memikiki pendidikan berkualitas dan bergelar master dan doktor yang mendominasi sebagai pelaku korupsi di Indonesia (Media Indonesia/10/11).
Seburuk itukah produk pendidikan di Indonesia? Yang seharusnya seseorang yang memiliki pendidikan tinggi dapat memberikan contoh yang baik kepada orang yang lain, jutru memberikan contoh yang tidak baik dengan melakukan korupsi. Dalam keadaan demikian, maka ada yang perlu dibenahi dalam pendidikan di Indonesia.
Pembenahan pendidikan dalam dimulai dari orientasi pendidikan itu sendiri. Dalam pendidikan tidak hanya berorientasi mencerdaskan dan memintarkan anak didik, tetapi juga harus menciptakan anak didik yang memiliki akhlak yang mulia.
Proses pendidikan untuk menciptakan anak didik yang memiliki akhlak mulai harus diberi sejak kecil. Dalam hal memberikan edukasi tentang akhlak harus melibatkan semua pihak, baik pihak guru, keluarga dan juga masyarakat sekitar. Akan tetapi, yang paling dominan adalah pihak guru dan orang tua. Sebab guru dan orang tua inilah yang selalu berkomunikasi dan berinteraksi.
Pendidikan akhlak ini dapat dikategorikan menjadi dua hal, yakni teori dan praktik. Dalam teori, pihak guru dan orang tua memberikan pemahaman kepada anak untuk melakukan perbuatan yang baik dan yang sopan. Bisa juga dengan membacakan cerita-cerita yang edukatif dan bisa juga memberikan buku-buku yang menggambarkan adab dan perilaku seseorang.
Selain teori, penting juga praktik. Pihak guru dan orang tua harus memberikan contoh perilaku yang baik. Sebab perilaku guru dan orang tua akan selalu ditiru oleh terdidik.
Pada waktu seoarang anak dalam proses perkembangan ini selalu mendapatkan pendidikan akhlak, maka pendidikan akhlak akan tertanam dengan kuat dalam diri mereka. Bahkan menjadi sebuah kebiasaan dalam keseharian.
Dengan adanya pendidikan akhlak inilah anak didik diharapkan menjadi generasi yang tidak hanya pintar dan cerdas, tetapi juga memiliki akhlak yang mulia. Pada waktu seseorang memiliki akhlak yang baik, maka dia tidak akan melakukan tindakan yang menurutnya tidak baik dilakukan. Sebab perilaku yang baik sudah tertanam dalam dirinya.
Share:

Dua Model Ketokohan Calon Pemimpin

Menjelang pemilihan pemimpin, pemilih akan dihadapkan pada calon-calon pemimpin yang sudah lolos dari verifikasi. Penentu dalam pemilihan ini adalah pemilih, sebab yang berhak yang memilih ada pada pemilih, sedang yang dipilih hanya sebagai seseorang yang akan dipilih oleh pemilih.

Dalam konteks ini, pemilih bebas memilih dari calon-calon yang ada. Tentu dalam proses memilih ini pemilih memiliki kriteria-kriteria yang jadi pertimbangannya. Masing-masing memiliki kriteria berbeda. Namun ada juga kriteria yang sama. Misal kriteria yang sama sama pemilih pegang adalah pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya. Sebab bagaimana pun pemimpin inilah yang akan mempengaruhi maju atau tidak, sejahtera atau tidak suatu kelompok yang dipimpin.
Bagi calon-calon pemimpin mengetahui kriteria umum yang diharapkan oleh masyarakat tersebut. Sehingga para pemimpin ini pun memperlihatkan sosok dirinya sebagai tokoh yang layak memimpin.
Berkaitan dengan ketokohan, pada dasarnya ketokohan seorang calon pemimpin ini dapat dipetakan menjadi dua, ada ketokohan pemimpin yang dibuat-buat melalui sebuah media, misal menjelang pemilihan calon pemimpin ini melakukan blusukan dengan membawa wartawan. Melalui wartawan ini calon pemimpin dipromosikan sedemikian agar terlihat layak menjadi pemimpin. Selain itu, ada pula ketokohan yang lahir karena kerja selama mengabdi pada masyarakat. Masyarakat melihat secara langsung jasa yang telah diperjuangkan. Sehingga ketokohan yang didapat oleh seorang calon ini tidak lahir melalui media, namun pemberian dati masyarakat.
Dari dua model ketokohan ini sebenarnya masyarakat sudah mengetahui mana yang layak dijadikan pemimpin. Sebab masyarakat modern sekarang sudah pandai dan pintar. Mereka dapat mengetahui perjalanan hidup calon pemimpin dengan mudah.
Ketokohaan yang terakhir inilah yang semua masyarakat sepakat bahwa kriteria yang demikian yang layak jadi pemimpin. Masyarakat tidak membutuhkan pencitraan, namun butuh bukti nyata apa yang telah dilakukan selama ini. Sehingga dari pengalaman yang telah dilalui inilah masyarakat menjadikan pertimbangan untuk memilih calon pemimpin tersebut.
Dengan demikian, bagi calon-calon pemimpin yang merelakan dirinya untuk mengabdi dan berjuang mensejahterakan masyarakat maka harus membangun pengalaman kepemimpinannya sejak dini. Tunjukkan pengalaman dan pengabdian kepada masyarakat bahwa pada diri calon-calon pemimpin ini layak untuk dijadikan pejuang garda depan.
Sedangkan bagi pemilih hanya memperhatikan dan mengamati dari beberapa calon yang ada. Pilih yang disukai daan jangan memilih yang tidak disukai. Tentu dalam memilih ini jangan sampai karena terpaksa. Pilihlah dengan hati nurani. Karena pemilihan pemimpin akan mempengaruhi pilihan hidup di masa yang akan datang.
Share:

Generasi Bangsa Indonesia Tidak Cukup Hanya Pintar, Tapi Juga Cerdas dan Berakhlak

Dunia pendidikan di era digitalisasi semakin maju. Kemajuan ini dibuktikan dengan adanya berbagai penemuan dan perkembangan dari berbagai bidang. Lahirnya kemajuan ini tidak lepas peran dari lembaga pendidikan sebagai wadah untuk mencetak generasi penerus bangsa.

Di lembaga pendidikan inilah generasi bangsa dicetak dan dididik agar dapat berkualitas. Dengan generasi yang cerdas dan pintar maka peradaban manusia semakin baik dan maju. Jauh dari segala kejatahan dan kemungkaran. Sehingga kehidupan manusia semakin damai dan sejahtera.
Idealnya, semakin maju pendidikan maka semakin berkurang kejahatan. Namun kenyataannya tidak demikiann kejahatan di era sekarang ini justri semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan adany korupsi, penipuan, pelecehan seksual, pembunuhan dan sebagainya, yang itu dilakukan oleh orang yang pernah mengenyam pendidikan.
Semua sepakat bahwa tidak ada lembaga pendidikan yang mengajarkan kepada anak didiknya untuk melakukan yang tidak baik. Semua lembaga pendidikan memiliki misi untuk mencerdaskan anak bangsa. Kalau ada pendidikan yang memiliki tujuan untuk membentuk generasi yang tidak baik, berarti lembaga pendidikan tersebut ilegal.
Secara umum lembaga pendidikan sudah berhasil mencetak generasi yang pintar. Namun lembaga pendidikan ini belum bisa mencetak generasi yang pintar, cerdas dan berakhlak. Generasi bangsa tidak cukup dengan pintar semata, tetapi harus cerdas dan berahlak.
Generasi yang pintar itu berarti ia dapat mengetahui tentang pengetahuan. Pengetahuan ini mulai hal yang khusus hingga yang umum. Ia mampu mengingat dan mengembangkannya.
Namun pintar tidak cukup apabila dia tidak cerdas. Cerdas berarti ia harus mempu memposisikan dirinya pada tempat yang tepat. Jangan sampai menjadi orang pintar yang dapat digerakan oleh orang lain dan dimanfaatkan oleh orang lain dalam hal yang tidak baik. Sebab apabila ia tidak cerdas, bisa saja ia dimanfaatkan oleh oknum yang memanfaatkan kecerdasannya untuk melakukan tindakan yang tidak dibenarkan dan diperkenankan.
Selain pintar dan cerdas, masih ada satu yang harus dimiliki oleh generasi bangsa ini, yaitu akhlak. Banyak orang yang pintar dan cerdas, namun tidak memiliki akhlak atau tata krama. Ia memanfaatkan kepintaran dan kecerdasannya untuk melakukan segala hal. Sebab hanya orang yang memiliki akhlak inilah yang mempu mencegah orang untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.
Membentuk generasi bangsa yang berakhlak memang tidak mudah, namun bukan berarti sebagai pendidikan menyerah untuk memperjuangkkanya. Memberikan pendidikan akhlak bisa diawali dari sang pendidik itu sendiri. Ia mencontoh akhlak dan budi pekerta yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini maka terdidik akan meniru apa yang dilakukan pendidiknya.
Sebab bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar semata, tetapi membutuhkan orang yang memiliki kecerdasan. Sehingga ia tidak mau diadudomba. Selain itu juga membutuhkan orang yang berakhlak yang mengetahui tata cara bersosial yang baik. Manakalan semua orang memiliki akhlak yang baik, niscaya ketidakbaikan dalam hubungan sosial semakin berkurang.
Share:

Ketergantungan Mahasiswa pada "Profesor Google"

Dewasa ini, semua kalangan kenal dangan Google. Sebuah aplika pencarian yang berbasis online ini sangat dinikmati oleh pecinta dunia digital. Pasalnya aplikasi pencarian ini sangat membantu setiap orang yang ingin mencari informasi melalui dunia digital. Para pengguna dengan mudah memanfaatkan aplikasi ini. Hanya dengan mengetik kata kunci yang ingin diketahui, aplikasi ini dengan cepat memberikan berbagai informasi di seluruh dunia.

Tentu aplikasi sangat bermanfaat dan manfaat ini bisa dirasakan oleh semua kalangan, termasuk mahasiswa. Salah satu yang digemari mahasiswa adalah memanfaat aplikasi ini untuk mencari makalah. Tugas membuat makalah bagi mahasiswa sudah seperti makanan sehari-hari.
Bagi mahasiswa yang mengetahui tujuan pemberian tugas makalah, ia akan membuat makalah dengan membaca berbagai literatur, khususnya literatur cetak. Dari pembacaan yang dilakukan olehnya, kemudian ia menuliskannya dalam sebuah makalah. Sehingga pada waktu ia membuat makalah dia mengetahui apa yang mau ditulis dan yang akan ia tulis. Dengan demikian, ia pun mampu mempresentasikan makalahnya dengan baik.
Sedangkan bagi mahasiswa yang belum mengetahui tujuan pembuatan makalah ini, ia mengambil jalan singkat. Dalam benaknya terbayang dengan sesosok "Profesor" Google. Pada akhirnya mahasiswa ini hanya copy paste, baik sebagian atau seluruh makalah yang sudah banyak tersebar di blogspot dan website. Lebih "pede"nya dalam makalahnya ditulis blogspot atau website di daftar pustaka.
Memang membuat makalah dengan copy paste mudah dilakukan dan praktis. Namun mereka lupa untuk membaca ulang dan memahami isi makalahnya. Tak mengherankan apabila mahasiswa yang membuat makalah dengan cara praktis ini tidak mampu menyampaikan ini makalahnya dengan baik. Bahkan ini presentasi di ruang kelas dengan membaca.
Praktik yang dilakukan oleh mahasiswa yang demikian ini sangat banyak dijumpai di perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri. Ketergantungan pada "profesor" google ini sepertinya sudah mengakar dan melekat pada mahasiswa.
Kehadiran aplikasi pencarian banyak sekali manfaatnya, tapi banyak juga madlaratnya. Pergunakanlah aplikasi ini dengan baik. Mengambil makalah dari internet bukan berarti tidak membaca dan tidak dipahami sama sekali.
Tujuan dari membuat makalah agar mahasiswa paham dengan materi apa yang disampaikan. Lebih dari itu, tujuan makalah melatih mahasiswa untuk memahamkan san bertukar pikiran dengan orang lain. Apabila yang membuat makalah tidak paham dengan apa yang disampaikan, karena faktor ia tidak membaca dan memahami, maka bagaimana ia dapat memahamkan orang lain dan dapat berdiskusi dengan orang lain.
Share:

Merindu



Udara dingin yang menerpaku
Membuat merinding
Gemeteran tak kuat merasakannya
Meski tubuh ini terasa panas

Setiap menit, hidung ini meneteskan air yang kental
Sesekali buntu
Tertutup kentalnya air di dalamnya
Nafas pun sulit

Suara menjadi berubah
Ntah menjadi lebih bagus
Atau justru berubah jadi aneh
Kata orag dulu suara ini dinamai bindeng

Begitu yang kurasakan saat ini
Namun, bukan hendak aku cerita
Cerita tentang kondisiku
Atau keadaanku

Akan tetapi dalam kondisi ini ku
Yang selalu ku ingatkan adalah wajahmu
Namamu
Dan suaramu

Mendengarkan suaramu membuatku terasa lebih baik
Melihat wajahmu melalui foto menambah gairahku
Mendengarkan suaramu membuatku bangkit
Meski lemah, namun semangat jiwa membara

Ini yang kurasakan
Apa ini yang dinamakan obat yang lahir dari perasaaan
Perasaan yang bahagia
Bahagia atas keberadaanmu
Yang selama ini ku rindukan

Doaku untuk kita
Semoga kita selalu diberi kesehatan
Keselamatan
Dan kebahagiaan
Aamiin




Semarang, 24 Mei 2016

Share:

Menyikapi Fatwa Sesat MUI

Tentu kita masih inget dengan Fatwa Sesat yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Fatwa sesat tersebut mencakup 10 point. Bagi aliran agama Islam yang telah memenuhi salah satu dari 10 kriteria tersebut, maka aliran agama tersebut telah sesat menurut MUI. Sehingga banyak aliran agama Islam di Indonesia, yang melalui fatwa sesat ini dianggap sesat karena telah memenuhi kriteria sesat.
tempo.com

Memahami kriteria tersebut, tidak lepas dari tugas seorang tokoh agama. Setiap tokoh agama, bertugas untuk mengajak umatnya untuk mengikuti jalan yang benar.

Sebuah jalan yang telah dicontohkan oleh panutan agamanya. Manakala ada penganut agamanya yang dianggap telah keluar dari ketentuan agamanya, maka tugas seorang tokoh agama mengingatkan, agar penganut agama tersebut kembali jalan yang benar.

Tindakan yang dilakukan oleh tokoh agama ini, bukanlah serta merta memaksa penganut agama, akan tetapi tokoh agama menginginkan agar umat agamanya tidak masuk pada hal-hal yang bisa menjadikannya masuk ke neraka.

Tindakan tokoh agama ini ingin mengajak umat yang lain untuk masuk surga, sehingga ketika ada ritual agama yang dianggap bisa menjadikan penganut agama masuk negara, maka tokoh agama mengajak untuk tidak melakukan hal itu.

Hal itulah yang diharapkan MUI. MUI ingin umat Islam berjalan sesuai dengan ajaran agama Islam yang selama ini. Sebuah ajaran Islam yang mengajak kebaikan dan tidak melenceng dalam berakidah.

Sebab MUI menginginkan umat Islam masuk ke surga semuanya, sehingga ketika ada umat Islam yang dianggap oleh MUI melenceng, di sinilah peran MUI, mengajak kembali ke jalan yang lurus, kembali ke agama yang dapat membawa penganut agamanya ke surga kelak.

Di sinilah memang tugas MUI, mengajak umat Islam agar menjalankan syariat agama Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad yang kemudian dipraktikkan oleh para ulama hingga sampai ke kita.

Lahirnya Fatwa sesat yang dikeluarkan MUI ini, memberikan sebuah ajakan dan sekaligus memproteksi jangan sampai melakukan hal itu. Toh juga, fatwa MUI ini tidak berdampak pada hukuman bagi orang yang melanggar. Dengan demikian, wajar manakala MUI mengeluarkan fatwa ini sebagai upaya mengajak umat Islam tetep pada jalur yang benar.

Logika demikianlah yang dapat dipakai untuk memahami fatwa sesat MUI. Dengan logika ini maka kita tidak secara serta merta menghakimi MUI yang telah salah mengeluarkan fatwa tersebut, namun kita bisa memahami bahwa melihat dari aspek tujuan.

Dimana tujuan MUI mengajak umat Islam menjalankan syariat yang "benar". Karena memang tugas tokoh agama adalah mengajak umatnya untuk menjalankan syariat yang benar agar nanti bisa masuk surga.


Wallalu a'lam bi al-showab

24 April 2016
Share:

Pemimpin Non Muslim Perspektif NU


Menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Daerah khusus Ibukota (DKI) Jakarta, isu pemimpin non-muslim menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Ada kemungkinan isu ini digulirkan oleh kelompok politik yang tidak menginginkan calon gubernur yang berlatar belakang non-muslim. Tak heran apabila, di beberapa media, baik media cetak, media tv maupun media online beramai-ramai menghangatkan isu ini.

Isu ini seakan-akan digulirkan oleh para politikus dari partai yang berbasis Islam. Padahal mungkin juga isu ini digulirkan oleh partai yang basisnya tidak partai Islam. Sebab setiap partai menginginkan kadernya berada di puncak kepemimpinan di Jakarta. Maka dari itu, harus dicermati dengan betul adanya isu ini.

Berkaitan dengan isu pemimpin non-muslim, Nahdlatul Ulama (NU) pernah mengadakan bahtsul masail tentang bagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada non-muslim, termasuk memilih anggota DPR non-muslim?

Bahtsul masail ini diadakan pada saat Muktamar ke-30 Tahun 1999 di Lirboyo Kediri, Jawa Timur. Dari hasil bahtsul masail ini menghasilkan jawaban bahwa "hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada non-muslim, termasuk memilih anggota DPR non-muslim adalah tidak boleh. Kecuali dalam keadaan darurat:
1.    Dalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang Islam secara langsng karena faktor kemampuan.
2.  Dalam bidang-bidang yang ada orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terhadap indikasi kuat bahwa yang bersangkutan khianat.
3.  Sepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non-muslim itu nyata membawa manfaat."

Itulah hasil kajian NU tentang hukum memilih pemimpin non-muslim. Secara umum memang, menurut kajian NU, memilij pemimpin non-muslim tidak boleh. Akan tetapi, secara eksplisit jawaban tersebut masih memberikan ruang bagi non-musliam untuk memimpin. Ruang tersebut terdapat dalam keadaan pertama dan keadaan yang kedua. Bahkan dalam keadaan yang ketiga secara tidak langsung membolehkan pemimpin itu dari non-muslim, dengan catatan dapat memberikan manfaat dengan nyata.

Kata "nyata membawa manfaat" kalau tidak ada kesempatan buat nonton muslim untuk memimpin, maka kata "nyata membawa manfaat" ini akan sulit dibuktikan. Hal itu baru dapat dibuktikan manakala non-muslim diberikan kesempatan untuk memimpin. Sehingga bisa diketahui apakah pemimpin non-muslim ini memberikan manfaat atau tidak.

Dalam konteks ini maka, yang terpenting pemimpin adalah orang yang mampu memberikan manfaat dan memimpin yang baik seluruh rakyatnya. Meski pemimpinnya berbeda agama.

Tak ada manfaatnya manakala pemimpinnya dari muslim, akan tetapi pemimpinnya melakukan khianat. Bahkan pemimpin demikian dapat menghilangkan kesejahteraan bagi suatu bangsa. Padahal tujuan adanya pemimpin tidak lain hanya untuk menjadikan seluruh rakyatnya hidup damai dan sejahtera, gemar lepah loh jinawe.

Wallahu a'lam bishshowab


25 April 2016.
Share:

Karakterisitik Raga, Otak dan Hati

Berjalan, menuju tujuan. Berbekal segala kebutuhan selama perjalanan. Peta tidak boleh ketinggalan, itu satu-satunya yang menuntuk sampai pada penghujung perjalanan.
Awal perjalanan, terasa mudah dan menyenangkan. Jalan mulus tanpa batu dan krikil. Pemandangan di sekeliling menawarkan banyak perhatian. Meski sudah bawa bekal yang cukup, namun keinginan untuk menambah bekal semakin kuat.
Dalam benak hanya membayangkan, kalau seandainya menambah bekal, itu berarti beban yang dibawa semakin berat, meski itu terasa menyenangkan dan bekal itu kita butuhkan selama perjalanan.
Pikiran masih menepis keinginan kuat tersebut, hanya berharap ada yang lebih baik. Sekali memutuskan untuk menambah bekal, maka harus pula berani menghilangkan keinginan yang ada manakala ada bekal yang ketemu di jalan di depan ada yg lebih baik.
Sembari berjalan, jalan mulai berbelok tak teratur, krikil dan bahkan batu besar mulai menghantam, serta bekal mulai dipertimbangkan, jangan sampai kehabisan, sebelum sampai puncak tujuan. Perjalanan mulai diuji dengan kuat. Namun kini masih sadar kalau itu adalah cobaan.
Badan terasa ngos-ngosan, di sebuah pertigaan, perlu istirahat sejenak. Ada penampakan bekal yang terasa membantu di jalan. Sebagai penyemangat dan periang di setiap perjalanan. Meski kondisi menyulitkan dan membosankan, namun bekal itu terasa akan mengobatinya.
Akhirnya terputuskan, mengambil bekal tersebut. Sebagaimana awal dalam perjalanan, sudah diberi pesan oleh tuan, bahwa bekal yang diambil di jalan memang terasa enak, namun ingat yang tidak enak belum muncul dari yang enak tersebut.
Keputusan sudah bulat, konsekuensi pun diamini dan dijalani. Perjalanan dilanjutkan, awal membawa bekal baru terasa ringan dan menambah rasa senang. Jalan yang terjal, tak seperti jalan yang menakutkan. Ibarat jalan tak menapakinya, namun jalan di atasnya.
Namun, hari terus berjalan dan perjalanan masih membutuhkan waktu yang lama. Beban yang dibawa terasa berat. Beban sungguh memberatkan dibawa oleh bekal itu. Berhenti sejenak, menghirup udara sekitar, merenungkan alam di hutan warna warni, biar merasakan kenyamanan alam tuk melupakan beban yang dibawa bekal. Biar tetap membawa bekal sampai tujuan, meski berat.
Bekal pun mulai tak memberikan rasa enak, terasa sepah rasanya, mau makan pun tak kuasa. Namun pikiran ini telah membutuskan untuk membawanya, makan badan ini harus bertanggung jawab atas keputusan pikiran. Meski badan ingin melepaskannya.
Banda semakin merasa tak nyaman, bahkan berharap bekal ini dibuang, bekal yang awalnya diharapkan selama perjalanan, namun ternyata tak enaknya semakin terlihat dan menyiksa. Menyiksa sang badan yang membawanya sejak awal perjalanan. Badan menyampaikan pendapat ke pikiran, "buanglah bekal ini, aku tak sudi membawanya, buat apa bekal yang dibawa, justru menghambat perjalanan kita", ungkap badan.
Pikiran mulai terbawa apa yang disampaikan oleh badan. Pikiran mulai berhitung dan memahami kondisi, sebab yang dipikirkan oleh pikiran sampai ke tujuan tepat waktu, karena bagi pikiran dan badan juga, waktu itu sangat berharga. Pikiran berkata dalam batin, "buat apa membawa bekal yang awalnya diharapkan untuk membantu sampai tujuan agar lebih cepat sesuai yang direncanakan, malahan justru kenyatannya memberatkan".
Hati yang tadinya tertidur selama perjalanan pun bangun, atas ungkapan keras yang disampaikan oleh badan. Hati mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh mereka berdua. Hati yang terkenal bijak sejenak diam dan memandangi mereka berdua. Suasana menjadi sunyi, senyap dan gelap. Hanya suara angin yang dingin memghantam badan.
"Harapan yang indah sungguh tak mudah didapatkan, harapan yang meneduhkan tak mungkin ada di tempat yang orang dengan mudah mengambilnya, ia tersimpan rapi dan dijaga ketat oleh duri yang harus dilalui, bahkan harus merasakan hujan es dan jalan yang berteping tuk melaluinya, mungkin bekal ini sebagai ujian biar kita bener-bener dapat menahan segala cobaan tuk meraih tujuan", jelas hati.
Badan dan pikiran masih belum menerima penjelasan hati. Seolah hati membarikan harapan yang belum pasti, bahkan tidak pasti. Badan dan pikiran berunding, agar perjalannya tak sia-sia, sebab ada bekal yang diambil di jalan tahun kemarin lusa. Perundingan yang dilakukan oleh badan dan pikiran selesai dan disampaikan ke hati.
"Wahai sahabat hati, engkau selama ini penenangku dan aku percaya, namun kali ini kita berdua ingin buat janji dan jaminan, apabila kita tidak sampai tujuan tepat waktu yang jelas-jelas disebabkan oleh beban ini, apa jaminannya?, dan berikan keyakinan kalau kita bisa sampai tujuan dengan keadaan ringan dan tepat waktu? Kalau tidak bisa, kita pun harus meninggalkan di jalan", ungkap pikiran yang menyampaikan kesepakatan dengan badan.
Hati hanya menjawab singkat, "tak selamanya jalan terjal dan aku akan menyadarkan beban agar dia bisa memposisikan dirinya sebagaimana wujud adanya, bukan sebalik", jawab hati.
Share:

Ketika Cinta Diterima

Pengungkapan perasaan dalam bahasa populernya menembak seorang perempuan ini perlu dipikirkan sebab akan merasakan konsekuensi dari pernyataan itu. Pilihannya antara diterima dan ditolak. Berarti apabila diterima, maka ada hubungan denganmu, dan apabila ditolak maka tidak ada hubungan spesial.

Perlu dipahami bahwa kedua pilihan itu pun akan membentuk konsekuensi sendiri-sendiri. Meski demikian seseorang harus sudah membayangkan kedua konsekuensi tersebut.
Misal dari pengungkapan cinta tersebut diterima, maka tetap ada konsekuensi, setidaknya ada dua pilihan, antara senang dan tidak seneng.
Diterima, satu sisi membuat tidak menyenangkan, sebab ada hal-hal yang secara tidak langsung membatasi dan setiap perbuatan harus mempertimbangkan orang lain. Tidak bisa melakukan segala sesuatu tanpa mempertimbangkan kehadiranmu.
Namun pembatasan ini, apabila dipahami secara benar, bukan sebuah pembatasan yang tak bermakna, namun ada arti penting yang berkaitan kesetiaan. Sebab pembatasan ini untuk menjaga perasaan orang yang telah hadir bersama. Saling menjaga perasaan itu adalah kunci setiap hubungan. Apabila tidak dijaga yang berupa pembatasan, maka hubungan itu bisa dipastikan akan bercerai-berai.
Apa artinya hubungan yang setia namun membuat perasaan pasangannya tersakiti. Apa artinya hubungan setia kalau tidak menjauhi perbuatan yang bisa membuat perasaan pasangannya tersakiti.
Sering kali orang memandang pembatasan ini hanya dipahami sepihak, yaitu kebebasan dia sebagai manusia merasa terbatasi, bagi kelompok seperti ini menganggap kebebasan manusia adalah absolut, dia bebas melakukan apa saja, sesuka yang dia inginkan. Namun kelompok ini sepertinya lupa, kalau sejatinya dia hidup tak sendiri. Kalau dia hidup sendiri, silahkan bebas melakukan apa pun, namun kalau sudah ada orang lain, maka kebebasan orang tersebut menjadi dibatasi. Begitu juga keberadaan orang lain menjadi terbatasi dengan adanya dia. Sehingga saling membatasi. Pembatasan ini bukan tanpa arti, namun memiliki arti besar dalam kelestarian mereka.
Diterima, pada sisi lain juga membuat perasaan ini senang, sebab setiap yang disampaikan ingin diterima oleh setiap yang mendengar. Begitu juga perasaan ini, setiap yang dicintai ingin dimiliki, diterima itu salah satu 'pengikat' yang ak tertulis sebagai kepemilikan, meski kepemilikan semu.
Sering kali dipahami, manakala diterima, maka yang bertanggung jawab atas hubungan itu adalah orang yang memulai. Pembebanan ini tentu akan menjadikan salah satu pihak dianggap tak adil. Sebab yang satu berbuat yang bertanggung jawab, dan pihak yang lain bisa buat apa saja.
Pemahaman yang demikian yang akan merusak sebuah hubungan. Semestinya ketika sudah diterima, itu berarti saling menerima. Ketika sudah saling menerima maka saling bertanggung jawab sebagai bentuk rasa memiliki. Apa arti memiliki manakala saling menyakiti dan tak saling mencintai.


Share:

Popular Posts

HALAMAN CATATAN WACANA

Makalah

Info

Opini