Sebuah Catatan Kecil yang Menaburkan Kecerahan dalam Wacana Kehidupan

Ceritaku Bersamanya

Canggung,,,
Itulah tingkahku, saat bersamanya
Untuk kali pertama
Seakan belum sadar akan kenyataan

Bagiku segala sesuatu membutuh proses
Dan tak lain,
Itu adalah sebuah proses
Untuk saling mencocokkan

"Sungguh,,,
Aku tak bermaksud menjauhkanmu dari Tuhanmu
Aku hanya takut kehilanganmu
Karena aku yakin
Kamu bisa mendekatkanku dengan Tuhanku"





*Di Bawah Pohon Beringin Kenangan, Kampus III IAIN Walisongo
  Semarang, 11 Desember 2012
Share:

Kekecewaanku

Dulu...
Engkau menunjukkan senyum manismu
Engkau lantunkan kata-kata indahmu
Engkau memberikan sinar harapanmu
Engkau mengulurkan tanganmu
Tanpa aku sadari
Kegelapan yang selama aku alami
Yang tertatam dalam hati
Hatiku pun mulai negku sinari
Tak khayal jika perasaan hati ini
Mengharap untuk memiliki

Sekarang...
Aku telah dibukakan akan realita
Semua yang kau berikan hanylah tipuan belaka
Meninggalkan luka dalam jiwa

Bagiku...
Engkaulah tidak salah
Tapi, akulah yang salah
Aku terlalu dangkal
Untuk memaknai seluk beluk perasaan
Tapi, dari sini aku tahu akan satu hal
Untuk memaknai kesucian perasaan




*PKM HMJ Falak
  Semarang, 02 Desember 2011
Share:

Rintihan Hati

Dingin...
Gemetar...
Itu yang ku rasakan
Kala terhembus nama-Mu dalam telingaku
Kala terekam nama-Mu dalam mataku
Kala terbesit nama-Mu dalam hatiku
            Keadaaan jendela hati
            Kadang terbuka
            Kadang tertutup
Dalam hati kecilku
Setiap detik
Selalu meronta-ronta tuk menyambut
Mempersilahkan
Keagungan nama-Mu
Tuk selalu bersemayam, menghidupkan hati
            Tapi musuh bebuyutan Bani Adam
            Selalu membayangi dengan segala kebiadaban
            Tak punya belas kasihan
            Tak memberi kesempatan
Tak ada yang kuat menahan
Pembawa dunia kegelapan
Hanya kedekatan hati kepada-Mu
Dapat meraih ketaatan-Mu


* 31 Januari 2012, di Pojok Kamar Umar BK, PP. Darun Najah Semarang
Share:

Pondok Damai V (Forum Lintas Agama) 16-18 Des 2011 di Salatiga












Share:

Aktivis Lebih Tanggap Realita

Tak sedikit khalayak yang memandang mahasiswa aktivis dengan sebelah mata. Mulai cara mereka berpenampilan, hingga sampai kebiasaannya sehari-hari. Penampilan seadanya menjadi ciri khas aktivis. Mondar-mandir mengurusi kegiatan suatu organisasi yang ia geluti menjadi makanan tiap hari. Tak khayal apabila kuliahnya dinomorduakan, sehingga kuliahnya sering bolong, bahkan tugas kuliah pun tak dihiraukan.
Fenomena itulah yang menjadi alasan khalayak menilai negatif para aktivis. Seorang mahasiswa yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat umum. Putra bangsa yang diharapkan dapat merubah tatanan masyarakat menjadi lebih baik (agent social of change), dengan diimbangi menjaga nilai-nilai kebaikan yang sudah tertanam dalam masyarakat (guardian of value). Tapi justru sebaliknya, keterlibatan mereka di dunia aktivis menjadikannya lalai akan tugasnya sebagai mahasiswa.
Beranjak dari inilah, para aktivis perlu gerakan untuk mereformulasi atas dunia aktivis agar sesuai dengan terget, yaitu tetap eksis di dunia pergerakan dengan disertai perolehan prestasi akademik yang baik. Reformulasi ini pun menjadi sangat penting, sebab dengan adanya para aktivis, maka akan selalu ada gerakan-gerakan pembaharuan yang berani mendobrak ketidakadilan pemerintah. Gerakan tidak harus dengan kekerasan, tetapi dapat melalui pengetahuan intelektual yang dimililiki. Seperti Pers Mahasiswa (Persma) yang merupakan dimensi gerakan mahasiswa dalam pergulatan opini publik. Tentu ini terasa sangat relevan, mengingat peran persma yang bergerak melalui jalur penguatan wacana dan pembentukan opini publik.
Dengan diimbangi kecakapan akan realita sosial yang dimiliki aktivis. Maka akan bisa menjadi batu loncatan untuk meraih kemampuan yang lebih dibandingkan dengan kaum akademikus. Sebab formulasi dalam menghadapi realita yang penuh problematika sosial lebih membutuhkan kecakapan pribadi untuk menhadapinya, tentu dengan disertai kemampuan akademik yang mumpuni.
Keaktifan mahasiswa mempunyai prospek tersendiri di masa depan. Dunia aktivis dapat melapangkan jalan kehidupan yang lebih baik, serta menata sedikit demi sedikit strategi dalam menghimpun relasi yang lebih mapan. Tentu ini akan meluaskan langkah kaki dalam menjalin pelbagai relasi sosial yang dapat memuluskan ruang gerak menghadapi problematika sosial. Kecakapan dalam menghadapi fakta sosial ini tidak dimiliki akademikus.
Share:

Studi dapat Menumbuhkan Sikap Bijak

Setidaknya ada banyak pendapat orang untuk menakar kesuksesan seseorang dalam studinya. Pendapat-pendapat tersebut dengan melihat dari berbagai sudut pandang dan ini memungkinkan perbedaan pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah dari sisi keberhasilan yang didapat setelah lulus atau tamat belajar, seperti pekerjaan yang diperoleh, gaji yang didapat dan lain sebagainya. Akan tetapi hal ini juga dapat dilihat dari aspek bagaimana ia menyikapi suatu permasalahan yang sedang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Hidup di dunia tidak akan lepas dengan namanya masalah. Masalah tersebut akan terus ada selama manusia hidup dan berinteraksi dengan yang lain. Baik itu permasalahan yang menyangkut dirinya sendiri, maupun dengan orang lain. Ini disebabkan karena manusia adalah makhluk sosial. Dimana manusia tidak akan dapat sendirian tanpa bantu dari orang lain. Di dalam berinteraksi dengan sesama manusia tidak bisa lepas dengan adanya sebuah masalah yang timbul. Dari sinilah mereka akan berusaha untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Tak heran apabila manusia berusaha dengan berbagai upaya untuk menyelesaikannya, di antara upaya yang ia lakukan adalah menyelasaikannya dengan pengetahuan yang ia ketahui. Sedangkan untuk mempunyai pengetahuan, setidaknya manusia harus dituntut untuk belajar/studi kepada seseorang yang lebih berpengetahuan.
Proses belajar tidak lain merupakan proses pentransferan pengetahuan dari orang yang tahu kepada orang yang belum tahu. Sehingga bagi yang belum tahu akan merasa tahu akan hal yang baru. Pengetahuan tersebut dapat dicapai melalui belajar atau diskusi, baik itu di bangku pendidikan formal maupun non formal, bahkan pengalaman pun juga bisa menjadi sebuah pengetahuan. Berbekal pengetahuan yang ia ketahui inilah seseorang akan menyelesaikan permasalahannya yang sedang ia hadapi.
Apabila seseorang tersebut memiliki pengetahuan yang luas, termasuk pengalaman baik itu yang menyangkut pengetahuan sosial ataupun pengetahuan umum. Maka ia akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan penuh pertimbangan. Ini berarti semakin orang itu berpengetahuan dan berwawasan luas, maka ia akan semakin bijak dalam melangkah ke depan dalam menyelasaikan segala permasalahan yang dalam kehidupannya.
Sehingga seseorang bisa dikatakan sukses dalam belajarnya dapat dilihat dari sifat bijaknya dalam mengatasi suatu permasalahan. Karena ia akan memperhitungkan berbagai aspek yang nantinya akan ditimbulkan dari keputusan yang ia ambil. Dengan berbagai pertimbangan dan perhitungan, tentu dalam menyikapi hal ini ia akan memilih keputusan yang paling baik di antara beberapa kemungkinan yang ada.
Share:

Mengamalkan Bhineka Tunggal Ika dalam Kehidupan

Semenjak nenek moyang bangsa Indonesia menempati kepulauan ini, dengan budaya yang sangat beragam. Bahkan jumlahnya ratusan, mampu hidup berdampingan. Saling menghargai dan membutuhkan, itulah sikap yang diterapkan. Tidak ada ambisi di antara mereka untuk menyamaratakan budaya ke dalam satu kebudayaan tunggal. Dan akhirnya terbingkai dalam Bhineka Tunggal Ika (berbeda tetapi tetap satu).
Tetapi, fenomena tersebut berubah, yang asalnya harmonis menjadi anarkis. Keberagaman budaya yang selama ratusan, bahkan ribuan tahun yang telah mampu mengantarkan rakyat Indonesia ke pulau sejahtera, dirasa hilang ditelan bumi.
Ini dikuatkan dengan adanya korupsi, pencurian, pemerkosaan, bentrok antarwarga, tawuran antarmahasiswa dan sebagainya. Bahkan akhir-akhir ini banyak terjadi perusakan dan pembunuhan dengan motif beda keyakinan dalam memahami agama.
Bentuk-bentuk berita itu seakan menjadi menu utama di media masa. Hal tersebut mencerminkan rasa saling membutuhkan antara satu dengan yang lain sudah tak hidup lagi. Diri sendirilah yang dipikirkan, tanpa berpikir bagaimana seandainya ia hidup sendiri di sebuah tempat.
Semua ini akibat dari masyarakat Indonesia yang telah melupakan akar-akar budayanya sendiri. Serta melemahnya implementasi nilai-nilai persatuan yang terkandung dalam Bhineka Tunggal Ika. Dan juga kurangnya sifat kritis dalam proses pengambilan budaya lain. Seandainya mereka mempunyai sikap menghargai, serta mengkritisi kebudayaan lain, maka hal itu mungkin tidak akan terjadi.
Dalam rangka berbenah diri, seperti Indonesia pada sediakala, anti anarkis. Maka rakyat Indonesia diharapkan mengimplementasikan kembali makna Bhineka Tunggal Ika yang dirasa telah luntur. Karena keberadaannya tidak dapat diingkari dalam mewujudkan kesatuan Indonesia dengan keberagaman yang dimiliki. Bahkan keberanian Indonesia untuk mengumandangkan kemerdekaan didukung penuh oleh kebersatuan seluruh kebudayaan Indonesia.
Kesatuan dari keberagaman adalah sistem yang menjalin hubungan dalam kehidupan. Karena kesatuan akan bermakna jika ada keberagaman sehingga antara satu dengan yang lain itu saling membutuhkan. Apabila salah satu unsur menyakiti atau meniadakan. Maka bukan hanya satu unsur yang akan hancur, tapi keseluruhan kesatuan akan goyah.
Share:

Meminimalisir Korupsi di Kampus

Di tengah hiruk-pikuk problematika korupsi di Indonesia, yang hingga sekarang masih menjadi teka-teki. Bahkan, semakin hari semakin banyak kasus korupsi ditemukan di beberapa daerah Indonesia. Ini menunjukkan bahwa gejala korupsi sudah menular ke berbagai elemen, dan tidak menutup kemungkinan merembet ke dunia kampus.
Tak sedikit para aktivis kampus mengatakan bahwa pergulatan politik praktis di kampus, layaknya miniatur suatu pemerintahan. Seperti pemberlakuan model sistem kepemimpinan baik di kalangan pejabat institusinya maupun mahasiswa. Tak hanya itu, termasuk juga sistem sirkulasi keuangan. Sebagus apapun model yang digunakan dalam sistem keuangan. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan terjadinya tindak korupsi di kampus.
Sebagai upaya untuk mencegah terjadinya korupsi atau penyelewengan dana, maka dari pihak birokrasi bekerja ekstra untuk lebih cermat dalam meneliti kemana larinya dana tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberlakuan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ), yang benar-benar diperhatikan dengan ketat dan teliti.
Share:

Tak Ada Terlambat untuk Merawat Lingkungan

Setidaknya, setelah manusia ada, segala sesuatu yang terjadi di lingkungan selama ini, merupakan hasil dari ulah tangan manusia. Mengambil teori sebab akibat, tak mungkin ada sesuatu yang terjadi tanpa adanya sebab yang pasti. Karena proses itu muncul diakibatkan adanya sesuatu, yang itu disebut dengan penyabab.
            Fenomena di Polandia, pada tanggal 19 dan 20 Desember lalu, sebanyak 29 orang meninggal, dikarenakan membeku di tengah temperatur dingin, yang bahkan mancapai 20 derajat celcius di bawah titik nol (Kompas, 20/12/10).
Inilah bukti, tinggi temperatur yang tak seperti biasanya. Seakan alam ini tidak ingin lagi bersahabat dengan makhluk yang disebut manusia. Mungkin alam "murka" setelah sekian lama menjadi objek sasaran hawa nafsu mereka. Bahkan secara tidak langsung bisa dikatakan alam sebagai pembunuh berdarah dingin. Di tengah suasana yang diharapkan bisa memberikan kebahagiaan bagi manusia. Di musim libur akhir tahun yang sudah mentradisi di seluruh dunia. Selain itu, akhir tahun juga menawarkan nuansa natal yang tak pernah terlepaskan oleh salju putih (White Chirstmas) yang amat khas.
Di belahan dunia justru kekacauan yang muncul. Badai salju dan suhu udara membeku di bawah nol masih terus melanda Eropa. Kekacauan transportasi terjadi besar-besaran di seluruh moda transportasi, baik laut, udara, maupun darat, termasuk angkutan berbasis rel. Bahkan ironisnya, kondisi ini berujung pada kematian puluhan orang (Kompas, 20/12/10).
Mengapa tahun ini musim salju menjadi sebuah persoalan yang sangat serius? Bukankah setiap tahun, salju musim dingin merupakan hal biasa di negara Eropa atau di tempat lain? Mengapa tidak, ini dikarenakan, musim dingin tahun ini datang lebih dini di sejumlah negara Eropa, tidak seperti tahun sebelumnya.
            Selain itu, intensitasnya pun lebih tinggi. Sehingga suhu tidak hanya dirasakan lebih dingin, tetapi juga salju turun lebih lebat. Bahkan disertai dengan serangan badai yang begitu hebat. Tak Cuma itu saja, perubahan musim pun terjadi di hampir seluruh penjuru dunia.
            Tercatat wilayah  Eropa merupakan kawasan dengan emisi karbon tertinggi di dunia, termasuk juga Amerika (Kompas, 27/12/10). Sehingga tak sedikit kalangan ilmuan yang mengaitkan keganjilan ini semua, bahwa pemanasan global atau global warming sebagai tertuduh utama atas berbagai keganjilan yang terjadi tahun ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena apa yang terjadi saat ini tak lain, merupakan manisfestasi cuaca esktrim, yang dipicu oleh ancaman bumi yang ditakuti manusia selama ini.
Nah, kalau apa yang sekarang ini kita rasakan dan alami merupakan babak pembukaan (prelude). Karena sebagian manusia baru menyadari, kalau ini adalah akibat tangan mereka. Maka dengan ini, setidaknya manusia bisa punya alasan untuk lebih khwawatir terhadap apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Dan apa yang terjadi ini, setidaknya sebagai bahan renungan untuk melangkah ke depan. Pastinya, tak meninggalkan akal sehat dalam melangkah, tak hanya melihat dari sisi hasilnya saja, tapi juga dampak negatif yang akan muncul.
Seribu langkah pasti selayaknya cepat dilakukan. Seperti yang ditawarkan orang terdahulu, yaitu melakukan penghijauan di mana saja, khususnya diperkotaan yang sepi akan pepohonan. Serta ini tak lepas dari peranan pemerintah untuk ikut andil. Tidak hanya itu saja kesadaran pun menjadi kunci utama untuk ini. Kalau hal tersebut tidak didasari atas rasa kesadaran akan nasib keadaan alam yang ada sekarang ini, maka tak ada gunanya melakukan penghijauan, jika masih banyak ditemukan orang yang tak bertanggung jawab seperti penebangan pohon secara liar.
Sebagai wujud rasa diri, perlu ditekankan lagi bahwa semua orang sudah sepatutnya sadar akan apa yang telah diperbuatnya sampai sekarang ini terhadap bumi. Serta tak menunda-nunda langkah yang pasti untuk memperbaiki lingkungan yang sudah rusak, akibat ulah tangan para manusia. Sekiranya kesempatan itu masih ada, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki ini. Kalau tidak mulai sekarang, kapan lagi?.
Share:

Sang Pahlawan Keadilan

Eksistensi pengadilan sangat dibutuhkan dalam suatu tatanan masyarakat. Nilai keadilan yang diketukkan oleh hakim, itulah yang selalu dimimpi-mimpikan oleh mereka. Dengan otoritas yang dimiliki oleh hakim, diharapkan dapat menyelesaikan problem yang sedang berkecamuk di masyarakat. Tak khayal, apabila kemurnian nilai keadilan hingga tak dapat tergantikan oleh uang.
Sejak media massa memberitakan terbongkarnya beberapa kasus penyuapan terhadap hakim, tidak sedikit masyarakat mulai memandang negatif pengadilan. Nilai keadilan di panggung pengadilan pun dianggap semakin lenyap termakan oleh uang. Akibatnya, citra pengadilan, bahkan pemerintahannya pun semakin merosot di kalangan masyarakat.
Benar, negara kita sudah tidak lagi dijajah. Tapi apa gunanya, jika negara yang sudah bebas dari kekangan penjajah, namun nilai keadilan tidak diperjuangkan dengan penuh kesadaran. Ini sama halnya, negara kita belum bebas dari penjajah, yaitu dari jajahan para pedagang keadilan.
Maka tidak yang salah, apabila lebel pahlawan diberikan kepada seorang hakim yang benar-benar memperjuangkan nilai keadilan untuk meredamkan sengketa yang ada di lingkungan masyarakat.
Share:

Merasa Semakin "Bodoh"

“Bagaikan katak dalam tempurung” masih ingatkah dengan peribahasa ini? Saya rasa sudah tidak asing lagi di telinga kita. Salah satu dari beberapa peribahasa yang  dalamnya terkandung nilai pendidikan yang amat penting. Ketika masih kecil, para guru menyampaikan peribahasa tersebut sebagai wejangan (pegangan) untuk tidak mengikuti jejak katak. Setidaknya peribahasa ini, mengajak kita untuk memahami realita kehidupan dunia yang begitu luas, bahkan tanpa batas. Sehingga kita jangan sampai mempunyai anggapan bahwa hidup ini seperti anggapan katak yang bernyanyi dengan merdu dalam tempurung.
Selain itu, kita juga diajak untuk memahami realita dengan holistik. Janganlah memahami realitas dengan sempit, tanpa membuka lebar-lebar segala kemungkinan yang lain untuk masuk dalam diri kita. Apabila seseorang hanya melihat kehidupan ini dengan sempit, maka kita akan merasa sudah bisa akan segalanya. Akibatnya, ia pun merasa sombong akan pengetahuan yang telah dimiliki. Dan ini tidak menutup kemungkinan, dia akan merendahkan orang lain dengan sifat keangkuhannya. Inilah yang menunjukkan bahwa dirinya belum bisa dikatakan sukses dalam studinya. Meskipun ia telah mengenyam pendidikan bertahun-tahun.
Kehidupan ini begitu luas, tak hanya terbatas dalam desa, kota maupun provinsi, tapi mendunia. Ini memberi pengertian bahwa pengetahuan yang ada di dunia begitu luas, tidak hanya selebar daun kelor. Apabila demikian, maka seseorang yang mempunyai pengetahuan luas dan dia tidak berpikiran seperti peribahasa tersebut, maka dia tidak akan mempunyai anggapan bahwa dirinya sudah paling pandai. Tapi justru sebaliknya, ia akan merasa semakin “bodoh”. Kenapa demikian, karena semakin ia tahu, maka ia akan merasa mengetahui apa yang belum ia ketahui. Sehingga dia akan merasa semakin sedikit pengetahuan yang baru ia ketahui. Dengan begitu ia akan merasa bodoh dan berkeinginnan untuk mengetahui hal yang menjadikan ia penasaran untuk diketahuinya.
Perasaan inilah yang semestinya tercermin dari orang-orang yang sedang mengeyam pendidikan. Benar, perasaan ini yang mengetahui hanya dirinya sendiri. Akan tetapi, orang yang ada di sekitarnya, setidaknya dapat mengetahui dengan perilaku dalam pergaulan sehari-hari. Seperti sikapnya yang tidak merasa paling pandai, menghargai pendapat orang lain dan sebagainya. Sifat seperti yang semestinya dimiliki setiap orang, agar ia selalu semangat dan terus berkeinginan untuk selalu menambah wawasan, tanpa harus merendahkan martabat orang lain.
Share:

Ziarah Makam Para Wali (Semarang, Demak dan Kudus) 16 Jan 2012



















Share:

Kuadran Terbesar Masuk MURI

Semarang, 24 Maret 2011 merupakan tanggal yang bersejarah khususnya bagi mahasiswa Prodi Konsentrasi Ilmu Falak, Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang. Pasalnya pada tanggal tersebut, merupakan hari Penganugrahan Museum Rekor Dunia Indonesia ( MURI) karena mahasiswa Prodi Konsentrasi Ilmu Falak telah berhasil menciptakan Kuadran Terbesar, dengan ukuran 4 x 4 meter dengan berat 400 kg. Penganugrahan rekor MURI ini merupakan salah satu dari serangkai acara "Falak Expo" yang meliputi: Seminar Nasional, Pameran Peralatan Astronomi, Bayar Buku, dan Pelatihan Hisab Rukyat Praktis, termasuk juga Penganugrahan Rekor MURI. Serankaian acara Falak Expo ini diadakan dalam rangka memperingati Dies Natalis IAIN Walisongo ke-41.
Penghargaan MURI itu diberikan oleh Manajer MURI, Sri Widayati kepada Pjs Rektor IAIN Walisongo, Prof. Muhibbin, M. Ag. Moment tersebut berlangsung pada siang hari, sekitar jam 13.30 WIB di Auditorium II kampus III IAIN Walisongo Semarang, setelah acara Seminar Nasional yang mengambil tema "Prospek Sarjana Falak: Peluang dan Tantangan".

Mahasiswa Konsentrasi Ilmu Falak sedang berfoto dekat Rubu' Mujaiyyab terbesar
Kuadran Terbesar itu tercatat di MURI dengan nomor rekor 4798. Dan Mahasiswa Konsentrasi Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Walisongo sebagai Rekoris. Kuadran ini terbuat dari bahan kayu, papa, tripleks, flat dan besi. Dalam pembutannya memakan waktu selama 2 pekan yang dikerjakan oleh tiga orang pekerja.
Manajer MURI, Sri Widayati mengatakan, kuadran terbesar ini merupakan karya dan karsa yang spektakuler yang belum pernah dicatat dan dibuat oleh seseorang sebelumnya, sehingga layak untuk diberi penghargaan. Hal ini senada dengan komentar Prof. Muhibbin, M. Ag. selaku Pjs Rektor IAIN Walisongo, saat ditemui setelah acara penganugrahan piagam MURI. Dia mengatakan, penciptaan Kuadran Terbesar ini merupakan karya besar yang patut untuk diapresiasikan.
Penciptaan kuadran yang diketuai oleh Raudlatul Firdaus ini sebagai wujud pengapresiasian terhadap alat ukur lawas dan tradisional dalam bidang navigasi dan astronomi. Alat ukur ini digunakan untuk menghitung fungsi goniometris yang sangat berguna untuk memproyeksikan peredaran benda langit pada lingkaran vertikal. Selain itu, alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur arah kiblat, menentukan waktu shalat dan mengetahui posisi bintang-bintang. Serta dapat pula digunakan untuk mengukur ketinggian dan kedalaman suatu objek, termasuk ketinggian benda-benda langit seperti matahari, bulan dan planet-planet.
Kuadran (Quadrant) atau sering pula disebut dengan istilah Rubu' (artinya seperempat), merupakan alat ukur tradisional yang berbentuk seperempat lingkaran bersudut 90 derajat. Alat ukur ini pertama kali ditemukan oleh seorang ahli ilmu falak asal Syiria yang bernama Ibnu As-Syathir (1306-1375 M) pada abad 14.
Pada umumnya, kuadran tersebut terbuat dari kayu atau semacamnya yang salah satu mukanya dibuat garis-garis skala sedemikian rupa. Biasanya ukuran kuadran hanya berukuran 40 x 40 cm. Tetapi, sebenarnya kuadran yang baik adalah kuadran yang ukurannya besar karena tingkat ketelitian dalam skala-skala yang dihitung akan menghasilkan data-data yang lebih akurat.
Adapun bagian-bagian Kuadran yang dibutuhkan dalam prkatek meliputi: pertama, Markaz, yaitu titik sudut siku-siku pada kuadran, yang padanya terdapat lubang kecil yang dapat dimasuki benang. Kedua, Qaus al-Irtifa', yaitu busur yang mengelilingi kuadran, bagian ini diberi skala derajat 0 sampai 90 derajat bermula dari kanan ke kiri, dan nilai dari 1° = 60 menit.
Ketiga, Jaib Al-Tamam, yaitu sisi kanan yang menghubungkan Markaz ke Awwal Al-Qaus, bagian ini diberi skala 0 sampai 60. Dan dari tiap-tiap titik satuan skala itu ditarik garis yang lurus menuju ke Qaus. Garis-garis tersebut disebut Juyub Al-Mankusah. Keempat, Sittiny, yaitu sisi kiri yang menghubungkan Markaz ke Akhir Al-Qaus. Bagian ini diberi skala 0 sampai 60, dari tiap-tiap titik satuan itu ditarik garis lurus menuju Qaus. Garis-garis ini disebut Juyub Al-Mabsuthah. Dan perlu diperhatikan bahwa perhitungan Jaib dimulai dari Markaz dan setiap 1 Jaib sama dengan 60 menit.
Kelima, Hadafah, yaitu tonjolan yang keluar dari bentuk kuadran. Keenam, Khait, yaitu benang kecil yang dimasukkan ke Markaz. Ketujuh, Muri, yaitu benang pendek yang diikatkan pada Khait, yang dapat digeser naik turun. Kedelapan, Syakul, yaitu bantul yang berada diujung Khait.
*Tulisan ini dimuat di Majalah Zenith
Share:

Legalitas No, Obat Yes!



            Tak asing lagi, keberadaan para aktivis yang selalu menyuarakan tuntutan. Tuntutan tersebut dianggap suatu hal yang logis atau positif baginya. Bahkan, yang sudah dilarang oleh Undang-Undang pun ikut diseret untuk dilegalkan. Seperti yang dilakukan oleh aktivis Lingkar Ganja Nusantara (LGN) yang menuntut legalitas ganja di Indonesia.
Jelas, tuntutan ini bersebrangan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Dimana ganja termasuk sebagai narkotika. Sebab mengandung zat Tetrahydrocannabinol (THC). Zat inilah yang dapat membuat pengguna menjadi mabuk apabila salah dalam penggunaannya. Keadaan mabuk, akan berdampak negatif pada otak. Dampak ganja di otak tergantung dari lama, jumlah dan cara pemakaian. Efek yang terjadi ialah euforia, rasa santai, mengantuk dan berkurangnya interaksi sosial.

Ganja inilah yang ingin dilegalkan para aktivis Lingkar Ganja Nusantara (LGN)
Jika ganja dilegalkan, tentu ini akan menyeret moral manusia, termasuk mahasiswa yang menjadi tonggak bangsa. Sebab mahasiswa cenderung akan memakai jalan pintas dan legal -ganja- untuk menghilangkan stress mereka.
Apabila ganja dilegalkan, maka efek dominan yang terjadi ialah konsumsi ganja akan meningkat tajam bahkan tanpa kendali. Ini sama halnya, melegalkan semua dampak negatif yang ditimbulkan. Tak bisa dipungkiri, ganja juga membawa manfaat, termasuk untuk penyembuhan kanker. Maka dalam hal ini, pemakaian ganja bisa dijadikan sebagai pintu darurat. Dimana pintu tersebut hanya dapat digunakan ketika dalam keadaan tertentu.
* Tulisan ini dimuat di Koran Harian Semarang dalam Rubrik Debat Mahasiswa pada tanggal 24 Mei 2010.
Share:

Profil


Blog Catatan Wacana ini merupakan blog pribadi. Keinginan adanya blog ini tidak lain sebagai wadah untuk mengekspresikan diri melalui media. Tentu untuk memberikan manfaat kepada semua pembaca. Namun terlepas dari keinginan yang dimiliki oleh pemilik blog, pasti ada kekurangan yang ada di dalam penampilan. Maka dari itu pemilik blog itu membuka lebar saran dan kritik dari pembaca yang budiman. Kritik dan saran ini sangat saya harapan agar blog ini dapat lebih baik dan bermanfaat.
Motto Hidup yang selalu dijadikan pegangan hidup saya adalah “Hidup hanya sekali, lakukanlah yang berarti”
Share:

Popular Posts

HALAMAN CATATAN WACANA

Archives

Makalah

Info

Opini